Kadinsos Kunjungi Anak-anak Eks Pengguna Lem Aibon dan Lem Fox di Sanggeng | Pasific Pos.com

| 22 September, 2019 |

Kadinsos Kunjungi Anak-anak Eks Pengguna Lem Aibon dan Lem Fox di Sanggeng

Papua Barat Penulis  Senin, 11 Februari 2019 12:08 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

Manokwari, TP – Pihak Dinas Sosial Kabupaten Manokwari sudah mendatangi anak-anak eks pengguna lem Aibon, lem Fox, dan yang pernah terlibat kejahatan di penampungan mereka di kediaman Komis Wambrauw, di Kelurahan Sanggeng.

Tidak hanya melihat kondisi anak-anak, Dinas Sosial juga sudah melakukan pendataan terhadap eks anak-anak jalanan itu.

“Tadi baru ketemu dan didata yang sekitar sini saja, di sekitar stadion ini ada sekitar 35 anak yang umurnya 12-22 tahun. Nanti kami akan data di Biryosi dan beberapa daerah lain karena untuk di Manokwari ini saja ada sekitar 400 anak,” kata Kepala Dinas Sosial Kabupaten Manokwari, Muhammad Manshur kepada wartawan di ruang kerjanya, Jumat (8/2).

Dikatakan Manshur, jumlah anak-anak eks pengguna lem Aibon, lem Fox dan kajahatan lain, bukan sedikit. Namun demikian, anak-anak tersebut harus mendapatkan perhatian dari Pemkab Manokwari karena merupakan generasi penerus Kabupaten Manokwari ke depan.

“Mungkin kalau sudah tidak mau sekolah, bisa diikutkan di program Paket A, B, atau paket C, atau bagaimana. Kalau memang bisa diberdayakan akan diberdayakan. Tadi saya tanyakan pada yang koordinir anak-anak itu, dia sampaikan bahwa kalau Pak Kadis ada rezeki lebih bisa membantu, saya bilang kalau soal itu akan kita programkan. Sekarang ini belum musrenbang. Mereka juga ingin kalau bisa nanti anak usia sekolah bisa diikutkan paket, nanti kami akan sampaikan ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan,” jelas Manshur.

Selain itu, kata Manshur, untuk anak-anak yang sudah tidak bersekolah atau yang sudah menginjak usia dewasa, diupayakan agar ada kegiatan. Oleh karena itu, mereka akan dibelikan mesin babat rumput untuk dimanfaatkan mendapatkan penghasilan.

“Sebab, mereka butuh kehidupan. Karena mereka sampai pakai lem Fox itu karena kosong, kosong dalam segi agama, kosong uang atau kantong, dan kosong perutnya, sehingga itu semacam pelarian,” sebutnya.

Dia juga menyampaikan bahwa pihaknya akan mengusulkan ke Kementerian Sosial untuk dibangun rumah singgah atau yang dikenal dengan istilah Sistem Layanan Rujukan Terpadu (SLRT) agar anak-anak terkumpul dan memudahkan upaya pemberdayaannya.

“Itu untuk mengumpulkan mereka karena nanti banyak pihak terlibat, seperti Dinas Kesehatan, Pendidikan, Pemberdayaan Perempuan, supaya sama-sama bersinergi untuk memberdayakan mereka. Kan di Papua ada Dana Otsus. Kebanyakan mereka ini anak asli Papua, jadi bagaimana sisihkan anggaran dari dana Otsus dari Pemkab Manokwari untuk perhatikan mereka karena mereka di rumah mungkin kurang perhatian,” ungkapnya.

Dia menambahkan, jika sudah ada wadah atau penampungan, maka Pemkab Manokwari mudah menyalurkan bantuan kepada mereka agar kehidupan mereka bisa lebih baik. Sebab, jika dibiarkan, mereka banyak berbuat negatif.

“Mereka yang dikumpulkan ini sudah ada kegiatan. Ada yang menjadi tukang parkir di Pasar Sanggeng, namun sudah diultimatum dan diawasi supaya tidak berbuat jahat lagi. Jadi mereka sekarang sudah menjadi tenaga pengaman di situ. Kalau ada yang berbuat tidak-tidak di Sanggeng, mereka akan ikut bertanggung jawab,” pungkasnya.

Sebelumnya, Sekda Kabupaten Manokwari, Aljabar Makatita meminta Dinas Sosial ikut memperhatikan anak-anak eks pengguna lem Fox, lem Aibon, dan kejahatan lain, Sebab, anak-anak itu butuh perhatian dan bantuan. [BNB-R4]

Dibaca 375 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.

INDEX