Tidak Isi PDSS, Siswa Bisa ‘Tergusur’ | Pasific Pos.com

| 20 August, 2019 |

Rektor Unmus, Dr.Philipus Betaubun, ST, MT (foto:iis) Rektor Unmus, Dr.Philipus Betaubun, ST, MT (foto:iis)

Tidak Isi PDSS, Siswa Bisa ‘Tergusur’

Papua Selatan Penulis  Rabu, 06 Februari 2019 12:05 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

MERAUKE,ARAFURA,-Rektor Unmus, Dr. Philipus Betaubun, ST, MT mengemukakan bahwa PDSS adalah hal rutin yang setiap tahun dilaksanakan sejak Bulan Januari hingga Maret untuk seluruh SMK, SMA di seluruh Indonesia.

Meskipun hal ini telah berulang kali dilakukan namun pihak Unmus tidak pernah lelah untuk selalu mengingatkan kepada sekolah bahwa PDSS wajib diisi. Sebab jika ini diabaikan maka siswa yang mengikuti seleksi SNMPTN, SBMPTN dan jalur mandiri terancam akan tergusur.

Sejak tahun 2016 dirinya yang termasuk dalam Forum Majelis Rektor dan menjadi penanggung jawab untuk Maluku dan Papua berupaya keras melaksanakan tes yang transparan untuk seluruh masyarakat Indonesia.  “Kalau diperhatikan sejak tahun 2016, 2017 dan 2018 nama yang digunakan terkesan  berubah-ubah terus. Hal ini terjadi karena kami mencari format yang benar-benar tepat agar seluruh perguruan tinggi di Indonesia, baik negeri maupun swasta bisa menggunakan satu tes untuk masuk di sebuah perguruan tinggi,”ujarnya pada sosialisasi SNMPTN dan SBMPTN, monitoring pengisian PDSS dan pengenalan UTBK di CoreInn Hotel belum lama ini.

Lebih lanjut ia mengungkapkan,  tahun lalu sudah dilakukan pra uji coba dimana tes mulai difokuskan dengan computer dan ternyata peminatnya cukup besar. Tahun ini dari lembaga tes masuk perguruan tinggi bahkan nama yang digunakan mengalami perubahan sampai 6 kali. Awalnya, PTN menginginkan agar ada PTN di dalamnya sehingga hanya khusus digunakan untuk PTN. Namun berdasarkan arahan menteri diminta untuk mendirikan satu lembaga sehingga baik PTN maupun PTS suatu saat juga dapat menggunakan tes tersebut.

Hal ini jika dilihat negerinya memang tidak ada oleh sebab itu pihaknya sedang berusaha dan diharapkan tahun depan untuk secara nasional baik yang masuk swasta maupun negeri, semua menggunakan nilai satu tes yaitu nilai dari lembaga tes masuk perguruan tinggi Indonesia. Kantor pusat lembaga ini sendiri berada di kementerian lantai 3 dengan ketua dari Universitas Negeri Surakarta dan sekretaris dari ITS.

Ia menjelaskan bahwa pada tahun-tahun sebelumnya para peserta hanya mengikuti satu tahap tes lalu tinggal menunggu pengumuman. Jadi peserta tidak mengetahui berapa nilai yang diperoleh. Apalagi peserta dari Papua cukup banyak membidik fakultas kedokteran di perguruan tinggi besar seperti UGM, Airlangga dan UI.

Namun sekarang sudah berbeda karena calon mahasiswa di saat mendaftar sudah mengetahui nilainya sehingga jika nilainya memang memenuhi syarat maka bisa mendaftar di perguruan tinggi besar tersebut. Namun jika nilai tidak mencukupi maka passwordnya tidak akan bisa masuk karena nilai tersebut juga berfungsi sebagai password. “Jadi ada standar yang akan dipegang oleh calon mahasiswa ketika hendak mendaftar di seluruh perguruan tinggi di Indonesia,”pungkasnya.

Dibaca 147 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.