Kapolda Ngaku Belum Ada Laporan Penyelidikan Kasus Penembakan | Pasific Pos.com

| 19 September, 2019 |

Kapolda Ngaku Belum Ada Laporan Penyelidikan Kasus Penembakan

Papua Barat Penulis  Senin, 04 Februari 2019 22:04 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

Manokwari, TP – Kapolda Papua Barat, Brigjen Pol. Rudolf A. Rodja menegaskan, Propam Polda Papua Barat masih menyelidiki kasus penembakan Indra, seorang mahasiswa yang diduga bandar narkotika jenis Shabu-shabu oleh anggota Polres Sorong.

“Saya masih menyerahkan kepada Propam untuk kamu lidik, apakah ada kesalahan atau tidak. itu mereka masih lidik, saya belum bisa komentar,” kata Kapolda kepada para wartawan di Lapangan Borarsi, Manokwari, Sabtu (2/2).

Dengan demikian, ia belum bisa mengambil langkah, karena belum ada laporan dari Propam terkait hasil penyelidikan. “Ya, timlah dulu, laporannya. Belum ada laporan ke saya, bagaiman saya mau pindahkan,” kata Rodja.

Sebelumnya diberitakan, kasus penembakan dilakukan anggota Satresnarkoba Polres Sorong terhadap almarhum, Senin (21/1) malam. Almarhum diduga telah menjadi incaran aparat kepolisian karena diduga selaku Bandar Shabu-shabu.

Dalam upaya penangkapan, aparat kepolisian mengklaim sudah mengeluarkan tembakan peringatan, tetapi almarhum justru disebut melakukan perlawanan dengan mengancam anggota memakai senjata tajam jenis badik.

Akhirnya, merasa terancam, aparat kepolisian menembaknya. Setelah ditembak, almarhum dilarikan ke rumah sakit, tetapi nyawanya tidak tertolong dan akhirnya meninggal dunia. [CR45-R1]

Yoteni Minta Pemda Teluk Wondama Gencar Obati Penyakit Kusta
Manokwari, TP - Anggota DPR Papua Barat,  jalur otonomi khusus dari Teluk Wondama, Yan A. Yoteni, meminta Pemerintah daerah (Pemda) Teluk Wondama,  melalui Dinas Kesehatan (Dinkes), lebih serius mengobati penyakit kusta di Kabupaten Teluk Wondama.

Hal itu disampaikan Yoteni, karena mengetahui kabupaten Teluk Wondama, merupakan daerah urutan pertama di Papua Barat, yang paling banyak terdapat penyakit kusta dibandingan Manokwari dan Kabupaten Sorong, dengan persentase 46 orang per 10.000 orang.

Yoteni menjelaskan, di Teluk Wondama, dahulunya pada abad Belanda, terdapat satu Rumah Sakit Kusta, yang difokuskan untuk menyembuhkan penyakit kusta, karena kusta saat itu dinilai merupakan penyakit yang butuh penanganan khusus.

Namun, ungkap Yoteni, seiring dengan perkembangan zaman, dan dengan banyaknya obat serta puskesmas, sehingga Rumah Sakit Kusta di Teluk Wondama, ditutup.

"Kami kira abad ini sudah berubah, dulu masa Belanda ada rumah sakit kusta disana (Teluk Wondama), tapi sekarang sudah tidak ada. Sekarang sudah ada puskesmas dan obat penanganan penyakit kusta, dan kalau sampai hari ini ada, artinya puskesmas-puskesmas di Kabupaten Teluk Wondama dan seluruh di Papua Barat, harus menaikkan pelayanannya," kata Yoteni saat menjawab pertanyaan wartawan Tabura Pos dan beberapa wartawan lainnya di kantor DPR Papua Barat, beberapa waktu lalu.

Yoteni mengutarakan, dengan sudah ada obat penanganan penyakit kusta dan puskesmas di 13 distrik di Kabupaten Teluk Wondama, seharusnya sudah tidak ada lagi penyakit kusta di zaman sekarang.

"Setiap distrik kan ada puskesmas, begitu juga sudah ada obatnya,  masa masih ada orang penyakit kusta? malah harus sebaliknya, dengan sudah ada puskesmas dan obat, maka penyakit kusta yang sudah ada sejak zaman belanda tidak boleh ada lagi sekarang," ungkap Yoteni.

Oleh karena itu, Ketua Fraksi Otsus DPR Papua Barat ini menyarankan agar Pemkan Wondama, melalui Bupatinya, dapat mengevaluasi kinerja dan pelayanan kesehatan mulai dari tingkat Dinkes sampai puskesmas, agar tidak ada lagi masyarakat Wondama, yang terkena penyakit kusta.

"Oleh karena itu, kami menyarankan agar pemda, dinas kesehatan, puskesmas lebih meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, bila perlu petugas puskesmas turun ke lapangan cek masyarakat, sehingga tidak ada lagi penyakit ini, tetapi jangan lupa juga dengan penyakit malaria, ISPA dan penyakit menular lainnya di Wondama," tandas Yoteni. [SDR-R1]

Dibaca 189 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.

INDEX