Sering Kebanjiran, TRC Survei dan Ambil Data di Kampung Kafiar | Pasific Pos.com

| 21 November, 2019 |

Sering Kebanjiran, TRC Survei dan Ambil Data di Kampung Kafiar

Papua Barat Penulis  Sabtu, 02 Februari 2019 11:51 0
Beri rating artikel ini
(1 Voting)

Manokwari, TP – Tim Reaksi Cepat (TRC) dari BPBD Kabupaten Manokwari sudah diterjunkan ke Kampung Kafiar yang sering dilanda banjir untuk melakukan survei dan mengambil data.

Kepala BPBD Kabupaten Manokwari, Johannes Jaftoran menjelaskan, setelah mengambil data itu, pihaknya akan berkoordinasi dengan instansi teknis dalam penanganannya, karena selama ini, Kampung Kafiar sering dilanda banjir, tetapi informasinya tidak sampai ke BPBD.

“Katanya banjir kemarin, kepala kampung sempat keluarkan kata bahwa tidak usah ditangani saja, karena sudah sering bersuara, tapi tidak ada tanggapan. Pertanyaanya, suaranya itu disampaikan kepada siapa, karena kami di sini tidak pernah dengar kalau Kampung Kafiar itu selama ini banjir,” kata Jaftoran kepada para wartawan di ruang kerjanya, Kamis (31/1).

Menurutnya, kemungkinan kesalahan ada di aparat kampung yang tidak menginformasikan ke BPBD. Dikatakan Jaftoran, pihaknya baru memperoleh banjir di Kampung Kafiar setelah Kepala Kelurahan Amban menyurat ke BPBD.

“Selama ini, banjir di Kampung itu tidak pernah ada penanganan. Selama ini tidak tersentuh, BPBD juga tidak pernah tahu,” katanya.

Berdasarkan informasi yang diterima BPBD, ungkap Kepala BPBD, jika terjadi banjir, sebanyak 15 rumah warga di Kampung Kafiar selalu tergenang air. Jaftoran menambahkan, berdasarkan informasi yang diterima, banjir karena salurannya hanya saluran sementara, belum dibuat permanen, sehingga ketika hujan, aliran air tidak terarah dan pembuangannya tidak jelas.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Papua Barat, Derek Ampnir mengakui, beberapa kabupaten dan kota di wilayah Papua Barat, masuk dalam zona rawan banjir akibat dari hujan yang signifikan.

“Di Manokwari ini, ada beberapa titik rawan yang sering kali menimbulkan tingkat kewaspadaan kami harus tinggi, terutama bagi mereka yang tinggal di bantaran Kali Wosi,” kata Ampnir kepada para wartawan di Kantor Gubernur Papua Barat, belum lama ini.

Menurutnya, dengan pembukaan daerah baru tanpa memperhatikan tata ruang dan tidak diimbangi fasilitas drainase yang memadai, menjadi pemicu langganan banjir di sejumlah titik, terutama di Kampung Petrus Kafiar dan pemukiman rakyat, Gria Permai di Amban.

Diakuinya, Kampung Petrus Kafiar berada dalam titik kerawanan banjir yang cukup memprihatikan, karena Kampung itu dibuka tanpa memperhatikan saluran drainase. Padahal, tegas dia, daerah itu menjadi daerah aliran air yang turun dari Anggori dan Amban.

Disinggung tentang normalisasi Kali Wosi, Ampnir mengaku sudah ada penanganan normalisasi Kali Wosi, tetapi karena hulu Kali Wosi sudah tidak seimbang antara ketertutupan lahan, maka setiap tahun sering terjadi banjir.

“Kalau hulu Kali Wosi kita tidak perhatikan, kemudian kawasan Soribo terus dibuka untuk kawasan pemukiman dan tidak disertai fasilitas drainase, akan pengaruh dan menjadi pemicu banjir yang sering terjadi dalam Kota Manokwari,” pungkas Ampnir. [BNB/FSM-R1]

Dibaca 221 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.