Korban Penganiayaan Oknum TNI Kecewa Atas Pemberitaan Sejumlah Media | Pasific Pos.com

| 14 November, 2019 |

Korban Penganiayaan Oknum TNI Kecewa Atas Pemberitaan Sejumlah Media

Papua Tengah Penulis  Jumat, 01 Februari 2019 10:53 font size decrease font size increase font size 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

NABIRE - Kasus penganiayaan yang terjadi pada dua orang wartawan di Nabire, masing-masing Pr selaku wartawan dari media SP dan RG selaku wartawan dari media nasional P (belum diketahui pasti), menjadi perhatian sejumlah pihak, bahkan kasus ini diblow-up oleh sejumlah media nasional.

Namun hal tersebut sangat disayangkan korban penganiayaan, baik Pr maupun RG sendiri. Pasalnya, kedua korban menuding pemberitaan yang beredar di media-media tersebut tidak memuat kejadian sebenarnya, melainkan hanya dari sisi institusi pelaku penganiayaan saja, yakni release pers Kapendam Cendrawasih, Kolonel Inf Muhammad Aidi, sehari setelah kasus tersebut terjadi.

“Saya kecewa atas pemberitaan beberapa media atas penganiayaan yang dilakukan oleh seorang oknum anggota TNI di Nabire bersama empat orang warga sipil lainnya,” tutur Pr ketika dihubungi media ini semalam dan seperti dilansir dilaman media online Nabire.net.

Korban yang juga mantan anggota Polri ini mengungkapkan kekecewaannya terkait keterangan Kapendam yang dalam rilis persnya mengatakan kasus ini terjadi karena perebutan Pramuria di Lokalisasi Samabusa, Distrik Teluk Kimi Kabupaten Nabire.

Dijelaskan korban ini, kasus tersebut tak tepat disebut perebutan pramuria, sehingga dirinya menganggap rekannya, yakni RG dijebak oleh pramuria berinisial L tersebut.

Ia membeberkan, bahwa L sengaja mengadu domba pelaku penganiayaan, yakni oknum TNI  berinisial Pratu AM, dengan rekannya korban RG. Karena pada saat kejadian, istri korban RG berinisial Id justru membela suaminya. Hal itulah yang menyebabkan terjadinya cekcok antara istri korban dengan oknum anggota TNI di Lokalisasi Samabusa Nabire.

“Persoalan itu dibuat atas perintah anak binaan lokalisasi Samabusa berinisial L agar kelima pelaku mendatangi rumah korban RG. Salah satu dari 5 pelaku mengatakan akan menghajar saudara RG. Tapi karena RG tidak ada, selanjutnya mereka pergi,” ungkap korban Pr.

Korban juga mengaku keberatan atas keterangan Kapendam dalam rilisnya yang menuliskan terjadi perkelahian di depan Gapura Mako Denzipur 12/OHH Nabire. Dikatakan korban Pr, yang terjadi sebenarnya, dirinya bersama rekannya RG yang justru dipukuli hingga babak belur oleh oknum TNI tersebut. Hal itu diperkuat keterangan saksi yang berada di lokasi kejadian berinisial Ys, yang merupakan Satpam Lokalisasi Samabusa.

Jika terjadi cekcok, korban Pr membenarkan bahwa hal itu memang terjadi di Lokalisasi Samabusa. Tapi untuk perkelahian, Pr keberatan dengan kata tersebut. Sebagai korban, dirinya juga mempertanyakan status 4 orang yang bersama-sama dengan oknum TNI saat dirinya dianiaya bersama rekannya RG di Gerbang Mako Denzipur.

Korban Pr meminta keadilan dan berharap agar bukan hanya oknum TNI saja yang diproses, tetapi empat orang lainnya yang bersama-sama oknum TNI juga harus diproses sehingga statusnya jelas siapa keempat orang tersebut. Selain itu, Pr juga meminta agar pramuria atas nama L juga ikut diproses, karena sumber permasalahan berasal dari dia.

Sementara itu, kasus penganiayaan ini juga sudah dilaporkan istri korban baik istri dari korban Pr maupun korban RG ke Polsek Nabire.
Masih seperti ditulis Nabire.net, Kapolres Nabire, AKBP Sonny M. Nugroho Tampubolon, SIK, mengatakan, kasus tersebut telah dilaporkan di Polsek, tapi di Polres tidak ada. Namun kasus tersebut sudah diarahkan ke Subdenpom Nabire.

Dijelaskan Kapolres, karena ada keterlibatan oknum TNI, maka hal tersebut menjadi wewenang Subdenpom, namun kalau ada keterlibatan sipil dalam penyelidikan dan penyidikan, maka hal itu akan ditangani Polres. “Saya sudah koordinasi apabila dalam penyelidikan maupun penyidikan ada keterlibatan masyarakat sipil, maka perkara yang ada masyarakat sipilnya-lah yang akan diserahkan ke Polres Nabire untuk ditangani,” tegas Kapolres.

Seperti diketahui, Pr dan RG  dianiaya oknum TNI didepan gerbang Mako Denzipur, Minggu dini hari (27/01). Hal itu dibenarkan oleh Kapendam XVII/Cend Kolonel Inf Muhammad Aidi. Menurut keterangan Kapendam, pelaku adalah Pratu AM, sedangkan 4 orang lainnya berasal dari PT. Kabel Optik.

Pelaku Pratu AM saat ini sedang meringkuk di sel tahanan Provost Denzipur-12/OHH, Selanjutnya akan dilimpahkan ke Subdenpom dalam rangka menjalani proses hukum.

Atas kejadian ini, Kapendam sangat menyesali perbuatan prajurit TNI yang keluyuran ke tempat lokalisasi.

Menurutnya, hal itu adalah prilaku yang sangat tidak terpuji dan tidak bermoral. Institusi TNI tidak akan mentolelir hal tersebut. “Bersangkutan pasti akan kami tindak keras sesuai proses hukum yang berlaku,” pungkasnya.(wan/ist)

Dibaca 225 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.