Ini Penyebab Smelter Tidak Dibangun di Papua | Pasific Pos.com

| 23 May, 2019 |

Foto bersama Manajemen PT Freeport dengan Pemerintah Provinsi Papua yang diwakili Sekretaris Daerah Papua, TEA Hery Dosinaen,S.IP,MKP,M.Si. Foto bersama Manajemen PT Freeport dengan Pemerintah Provinsi Papua yang diwakili Sekretaris Daerah Papua, TEA Hery Dosinaen,S.IP,MKP,M.Si.

Ini Penyebab Smelter Tidak Dibangun di Papua

Headline Penulis  Selasa, 13 November 2018 12:14 font size decrease font size increase font size 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

JAKARTA- Pabrik pengolahan dan pemurnian konsentrat (Smelter) PT Freeport Indonesia belum bisa dibangun di Papua karena Papua dinilai belum memiliki pabrik-pabrik penampung dan pengelola limbah.  Pembangunan Smelter juga membutuhkan biaya yang besar.

Hal tersebut dikatatakan Vice President Corporate Communication Freeport Indonesia Riza Pratama kepada pers, Senin malam (12/11/2018) di Hotel Pullman Thamrin Jakarta Pusat usai pertemuan dengan Pemerintah Provinsi Papua yang diwakili Sekretaris Daerah Papua, TEA Hery Dosinaen,S.IP,MKP,M.Si.

“Smelter masih di Gresik (Jawa Timur) karena ada limbah beracun yang harus dikelola. Kebetulan di Gresik sudah ada infrastruktur atau pabrik semen dan pabrik pupuk yang menampung limbah itu. Maka itu untuk sementara lebih visibel dibangun di Gresik,”ungkap Riza.

Lebih lanjut Riza Pratama menjelaskan pengolahan dan pemurnian konsetrat yang dilakukan menghasilkan limbah Toxic Material yang jika tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan limbah beracun bagi lingkungan hidup baik yang berada di udara, tanah dan air.

  “Membangun Smelter itu itu susah dan mahal dan kita harus mengelola limbah. Limbah Toxic itu berbahaya. Jadi kalau tidak dikelola dengan baik, limbah itu bisa beracun bagi udara, tanah dan air. Tapi kalau nanti Papua sudah mempunyai penampung limbah itu mungkin juga akan bisa dibangun  di Papua,”ujarnya.

Di  Gresik,lanjut Riza, sudah ada pabrik pupuk yang mengelola limbah Toxic menjadi bahan untuk membuat pupuk. Begitupun limbah limbah  Gypsum (batu putih sisa endapan) yang diserap oleh pabrik semen PT Petrokimia. “Kalau tidak dikelola secara berkelanjutan maka akan berdampak ke lingkungan hidup dan akan merusak. Makanya untuk saat ini Gresik yang paling cocok pilihannya,”tandasnya.

Sementara itu laporan  PT Freeport terkait  kemajuan pembangunan Smelter yang berlokasi di Gresik, Jawa Timur sudah mendekati target, yakni lima persen.  Dari total target yang dicanangkan mencapai 5,18 persen hingga Agustus 2018, pembangunan smelter tersebut sudah menyentuh 90 persen. Sebelumnya Kementerian ESDM mengungkapkan pembangunan smelter yang dikerjakan oleh PT Freeport Indonesia di wilayah Gresik, Jawa Timur ini baru mencapai 2,42 persen.

Dalam pertemuan Senin Malam, Sekda Papua didampingi didampingi Asisten I Doren Wakerkwa,SH Kepala Bappeda, DR.M Musa'ad, Kepala Inspektorat, Anggiat Situmorang, SH, Kepala Badan Keuangan, Ridwan Rumasukun, Plt Kepala Dinas Olahraga dan Pemuda, Daud Ngabalin, Kepala Badan Pendapatan Daerah, Gerson Djitmau, SH dan Kepala Badan Penghubung Papua di Jakarta, Alex Kapisa,ST.

Dibaca 345 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.

INDEX