HIV Lebih Banyak Diderita Perempuan di Papua | Pasific Pos.com

| 6 December, 2019 |

Kepala Dinas P3AKB Papua, Anike Rawar Kepala Dinas P3AKB Papua, Anike Rawar

HIV Lebih Banyak Diderita Perempuan di Papua

Pendidikan & Kesehatan Penulis  Selasa, 16 Oktober 2018 10:01 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

JAYAPURA,- Kaum perempuan paling rentan untuk terinveksi TB paru, dimana ibu rumah tangga menjadi yang terbesar. Sehingga dari data tersebut, isu gender perlu mendapat perhatian dalam upaya penanggulangan TB paru danHIV/AIDS di Papua.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Papua pada triwulan pertama 2018, jenis kelamin jumlah penderita HIV perempuan lebih banyak dari laki-laki. Dimana perempuan mencapai 7.440 orang sementara laki-laki 5.825 orang.

Kendati demikian, untuk angka kasus AIDS hampir sebanding dimana laki-laki mencapai 11.267 orang dan perempuan 11.208 orang.

Demikian disampaikan Gubernur dalam sambutan tertulis yang dibacakan Kepala Dinas P3AKB Papua Anike Rawar, pada Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengarusutamaan Gender/Perencanaan dan Pengangaran yang Responsif Gender dalam Pencegahan dan Pengendalian TB Paru serta HIV/AIDS 2018, Senin (15/10).

Menurut Gubernur, dari data diatas, kaum perempuan pula menjadi yang paling rentan untuk terinveksi TB paru, dimana ibu rumah tangga menjadi yang terbesar. Sehingga dari data tersebut, isu gender perlu mendapat perhatian dalam upaya penanggulangan TB paru danHIV/AIDS di Papua.

“Karena dari aspek epedemiologi TB patu dan HIV/AIDS memberi gambaran bahwa perempuan lebih rentan terkena dua penyakit mematikan ini ketimbang laki-laki. Hal demikian dipengaruhi oleh beberapa hal yang terkait dengan kesenjangan gender  itu,” ujarnya.

Masih dikatakan, salah satu wujud pelaksanaan pangarusutamaan gender adalah adanya perencanaan dan penganggaran yang responsif gender. Dimana dua proses tersebut Saling terkait dan terintegrasi untuk mengatasi kesenjangan akses, partisipasi, kontrol dan manfaat dalam pelaksanaan pembangunan. Termasuk program maupun kegiatan pencegahan TB paru dan HIV/AIDS yang sementara dilaksanakan.

Menurut ia, penanganan dua penyakit mematikan ini merupakan prioritas nasional yang menjadi sorotan dan masalah kesehatan dunia maupun Indonesia. ”Juga merupakan salah satu indokator WHO, dalam mewujudkan dunia bebas TB paru 2050. Sebab meski telah dilakukan berbagai upaya, penyebarannya masih tinggi”.

“Hal demikian disebabkan antara lain, status ekonomi, gizi, keterjangkauan fasilitas pelayanan berkualitas, tingkat pendidikan, serta masalah sosial budaya termasuk didalamnya ketimpangan gender,” katanya.

Oleh karena itu, sambung Gubernur, pihaknya menyambut positif dukungan pemerintah pusat melalui kementerian terkait yang mendorong penyelenggaraan kegiatan bimtek itu. Sehingga harapannya kedepan, para peserta yang mengikuti kegiatan dapat pula mendorong kesetaraan gender dalam pencegahan maupun pengendalian TB paru serta HIV/AIDS.

Dibaca 419 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.