Di Kloofkamp, Bocah 6 Tahun Disiksa Kedua Orang Tua Kandung | Pasific Pos.com

| 19 July, 2019 |

Di Kloofkamp, Bocah 6 Tahun Disiksa Kedua Orang Tua Kandung

Beri rating artikel ini
(0 voting)

Tampak Sawal (6) Tengah Menjalani Perawatan Intensif Diruang Isolasi RSUD Dok II Jayapura, Selasa (16/6). + Foto Ibu Kandung Sawal Digiring ke Mapolres Jayapura Kota.

Jayapura,- Kisah Anggline, gadis belia berusia 8 tahun yang dibunuh pembantunya di Pulau Bali nyaris kembali terulang. Kali ini, seorang bocah laki-laki berusia 6 tahun bernama Sawal disiksa kedua orang tua kandungnya selama dua bulan terakhir dirumah kontrakannya kawasan Pemukiman Kloofkamp, Distrik Jayapura Utara, Provinsi Papua.
Beruntung derita penyiksaan yang dialami Sawal terbongkar, takala salah satu tetangga korban Felix S Sawaki mempergoki kondisi Sawal yang sangat lemah dengan penuh luka sulutan rokok hampir disekujur tubuhnya. Sontak, Selasa (16/6) Felix langsung melaporkan kedua orang tua Sawal berinisial DH (35) ibu korban dan AK (ayah korban) ke Mapolres Jayapura Kota.
Usai membuat laporan, Felix S. Sawaki menceritakan, kasus kekerasan anak diketahuinya ketika dia usai dari kamar mandi dirinya melihat anak kecil tersebut turun dari tangga dalam kondisi sudah lemas dan ia melihat ada luka-luka pada bagian tubuhnya.
Felix mengaku sempat bertanya-bertanya siapa orang tua anak tersebut. “Saya sempat tanya, siapa punya anak. Tidak lama berselang, kaka perempuannya bawa anak itu masuk kedalam rumah dan langsung menutup pintu rumah. Terus saya bilang ke tetangga lainnya untuk melapor polisi, daripada terjadi apa-apa disini, nanti kita yang kena” tutur Sawaki, Selasa (16/6) .
Menurut Felix,  kedua orang tua korban memiliki kepribadian tertutup dengan tetangga, bahkan tidak pernah bergaul dengan tetangga. Padahal keluarga tersebut tergolong keluarga baru pindahan dari Makasar sejak dua bulan terakhir.
“Ayah dari anak tersebut bekerja sebagai sopir truk, sedangkan ibunya hanya ibu rumah tangga. Bapak anak itu hanya senyum-senyum saja kepada tetangga, saat ketemu. Kalau tidak salah, korban dulu punya badan bagus, tapi setelah dua bulan disini badan habis,” katanya.
Ketua RT III/RW V, Kelurahan Gurabesi, Distrik Jayapura Utara Haji Syaiful juga membenarkan bahwasanya keluarga tersebut belun terdaftar secara administrasi diwilayahnya.  ”Keluarga ini baru tinggal di kompleksnya beberapa bulan. Namun, data yang sudah didapatkan, mereka belum melapor dan tidak dibekali surat pindah dari tempat asal.
Haji Syaiful juga mengecam tindakan kedua orang tua tersebut yang telah melakukan penyiksaan terhadap anak kandungnya yang masih berusia 6 tahun. “Hal-hal seperti ini tidak dibenarkan dan saya apresiasi tindakan warga yang melaporkan kedua orang tua ini,” tutur dia di Mapolresta.
Sementara itu, Kapolres Jayapura Kota, AKBP Jerminas Rontini didampingi Kasat Reskrim, AKP Samuel Dominggus Tatiratu menegaskan pihaknya telah melakukan olah TKP di rumah kontrakan yang ditempati korban.
“Pelaporan sudah kami terima dan kedua orang tua korban sudah kami amankan. Sekarang baru melakukan olah TKP di rumah yang ditempati korban di kawasan Pemukiman Kloofkamp,” kata Jermias, Selasa (16/6).
Kanit Pelayanan Perempuan dan Anak Polres Jayapura Kota, Ipda Irene Aronggear menegaskan saat ini pihaknya telah menetapkan dua terduga tersangka yang tak lain kedua orang tua korban berinisial DH dan AK. Sedangkan kakan tiri korban berinisial KJ hanya dimintai keterangannya sebagai saksi.
“Memang ibunya yang punya peran utama dalam kekerasan ini, tapi ayahnya juga mengetahui kekerasan terjadi, sehingga dianggap melakukan pembiaran dan bisa dipidanakan,” kata Irene melalui ponsel genggamnya. 
Berdasarkan hasil visum, sambungnya, korban mengalami patah kaki kanan, kepala ada bekas pemukulan benda tumpul. Bahkan ditemukan sulutan rokok hampir diseluruh bagian tubuh korban.   "Kondisi korban saat ditemukan sudah sangat lemah dan nafasnya sudah melemah dan mukanya membiru "ungkapnya.
Irene menambahkan saat ini pihaknya masih mendalami kasus ini dengan memintai keterangan kedua orang tua korban. Kedua orang tua korban, sambungnya, disangka melanggar pasal 44 ayat (2) UU Nomor 23 Tahun 2004 tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dengan ancaman pidana 10 tahun penjara. (Syaiful)

Dibaca 1431 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.