Pemkot Jayapura Sosialisasi Kajian Penentuan Nilai Air Tanah | Pasific Pos.com

| 21 August, 2019 |

Foto bersama Pemerintah Kota Jayapura dan pemateri Kajian Penentuan Nilai Air Tanah. Foto bersama Pemerintah Kota Jayapura dan pemateri Kajian Penentuan Nilai Air Tanah.

Pemkot Jayapura Sosialisasi Kajian Penentuan Nilai Air Tanah

Kota Jayapura Penulis  Selasa, 17 Juli 2018 17:07 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

 

JAYAPURA - Pajak air tanah merupakan salah satu pendapatan asli daerah (PAD) yang sangat potensial. Namun, untuk menentukan nilai yang harus dibayarkan perlu kajian mengenai nilai perolehan air tanah (NPAT).

Seiring pertumbuhan penduduk dan urbanisasi, perkembangan industri dan bisnis serta peningkatan pemakaian air untuk kepentingan lainnya menyebabkan pengambilan dan pemanfaatan air tanah di Kota Jayapura.


Untuk mengoptimalkan PAD dan mencegah pencemaran lingkungan, Pemerintah Kota Jayapura menggelar sosialisasi NPAT, kepada badan usaha dan kegiatan yang menggunakan air tanah.


"Ini sangat penting karena sudah ada perdanya, yaitu pajaknya 20 pesen. Sosialisasi ini untuk menentukan harga dasar," kata Wakil Wali Kota Jayapura, Rustan Saru di Kantor Wali Kota Jayapura, Selasa (17/7/18).


Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Jayapura, Ketty Kailola mengatakan pemanfaatan air tanah semakin menigkat, yaitu 40 persen kebutuhan domestik dan 30 persen non domestik.


"Pemanfaatan air tanah tanpa ijin, pengelolaan air tanah tanpa meter air, indikasi terjadi kerusakan lingkungan, penurunan muka air tanah, intrusi air laut, dan penurunan kualitas air merupakan permasalahan yang perlu mendapatkan perhatian," kata Ketty.


Sebelumnya, kata Ketty, pendataan dilakukan di lima distrik di Kota Jayapura, pengujian sampel air di hotel, kantor, cucian motor, dan rumah makan.


"Jumlah hotel dan penginapan yang memiliki ijin air tanah ada 51 dengan jumlah sumur bor per Juni 2016 ada 416. Data debit air per hati tidak bisa dipastikan karena kebanyakan perusahaan atau kegiatan menggunakan sistem otomatis," kata Ketty.

Dibaca 362 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.