EKSISTENSI GEREJA DALAM DUNIA POLITIK PAPUA | Pasific Pos.com

| 21 August, 2019 |

EKSISTENSI GEREJA DALAM DUNIA POLITIK PAPUA

Opini Jumat, 13 Juli 2018 20:56 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

Oleh Ernest Pugiye

 

Dalam dunia demokrasi dan politik Papua yang semakin menarik keterlibatan banyak orang, Gereja mesti perlu menghadirkan diri secara bersama dengan orang asli Papua yang minoritas, kecil dan lemah. Para pemimpin Gereja Papua hendaknya mengetahui bahwa orang Papua masih dijadikan sebagai pihak korban dari dunia politik. Sepertinya, kebijakan UU No.21/2001 tentang Otonomi Khusus (selanjutnya anda baca: Otsus) bagi provinsi Papua dan Papua Barat yang sedang berjalan ini. Sekalipun Otsus telah diberikan oleh pemerintah pusat secara sepihak sebagai solusi politik, tetapi pemerintah sendiri tidak lagi berkomitmen untuk menjalankan substasi dari UU Otsus. Pemerintah dinilai gagal bangun Papua. Maka Gereja dipanggil untuk memperbaharui komitmen pemerintah ke arah perdamian dan kesejahteraan.

Untuk merealisasikan perubahan mental pemerintah dan pembangunan kedamaian Papua, kehadiran dan peran Gereja Papua dapat dinyatakan melalui “Pewartaan Sabda Allah”. Pewartaan Sabda-Nya mutlak perlu dikontekskan dalam upaya perubahan iman dan moral sosial. Perubahan itu terjadi jika Gereja mengalami diri sebagai subjek masalah Otsus yang selama ini mengikat orang Papua. Karena pewartaan Sabda-Nya itu mesti dinyatakan secara kontekstual dan mendarat dalam keseluruhan dinamika hidup Gereja-Nya. Sabda Allah mesti digunakan sebagai jalan pembebasan bagi rakyat Papua dari masalah sosial dan politik. Sabda Allah mengundang para pemimpin Gereja Papua untuk menuntun mereka keluar dari berbagai realitas kekerasan, ketindasan dan penderitaan yang marak terjadi dalam era Otsus di Bumi Cenderawasih. Sabda Allah yang membebaskan itu telah tertulis secara aktual dalam Kitab Suci, baik perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Maka Kita Suci boleh digunakan menjadi sumber aspirasi dan inspirasi utama bagi Gereja dalam memperluas pewartaan pembebasan dan solidaritas Allah kepada rakyat Papua dalam era Otsus Papua dan Papua Barat.


Melalui pewartaan Sabda-Nya, Gereja dipanggil untuk menjadi saksi Kristus Tuhan kita bagi rakyat kecil. Dipahami bahwa Kistus menjadi subjek yang menggerakan Gereja untuk menghadirkan diri bersama rakyat yang bermasalah. Rakyat mesti perlu mengalami kebebasan hidup sebagai murid Kristus dan hidup damai bersama-Nya menuju Allah. Sabda-Nya mengajarkan, Allah berpihak kepada orang-orang yang tergusur dan tertindas karena adanya ketidakadilan pemerintah atas hak-hak masyarakat Papua. Maka Gereja memperlihatkan keberpihakan Allah bagi rakyat Papua melalui pewartaan Sabda-Nya yang membebaskan dan mendamaikan.


Prolakmasi Kebebasan


Gereja Papua mesti belajar dari Tuhan Yesus sebagai Guru kebebasan. Dalam banyak hal, Tuhan Yesus telah dikenal sebagai Sang Pembebas. Piagam Nazareth Yesus yang maklumkan misi kebebasan-Nya paling cocok untuk dijadikan sebagai sumber inspirsi utama bagi Gereja Papua di masa sekarang. Dalam piagam-Nya di Bait Allah, Tuhan Yesus sempat menyetir Yesaya juga setelah Ia diberi kepercayaan untuk membaca teks Injil Lukas. Naska aslinya tercantum pada Kita Yesaya 61:1 itu. Itu artinya, Kristus menggenapi nubuat Yesaya yang meringkaskan pelayanan-Nya sebagai wujud proklamasi kebebasan dan “tahun rahmat Tuhan” bagi semua bangsa termasuk orang-orang tertindas, miskin dan tertawan karena kukuasan para penjajahan Rohawi (Luk 4:18-19). Keseluruhan pelayanan Yesus merupakan suatu demostrasi, kebebasan dan kesetiakawanan Allah dengan orang-orang miskin, tergusur, tertindas dan orang-orang malang di muka bumi ini yang menjadi korban dosa dan ketidakadilan. Adalah pilihan bebas-Nya untuk berada bersama orang-orang miskin, yang digusur, yang tak berdaya dan mereka yang diremehkan sebagai para pemungut cukai (pegawai pajak) dan orang-orang berdosa yang menyebabkan Ia ditolak dan disalibkan oleh para penguasa.


Yesus tidak ikut-ikutan menuding orang-orang malang sebagai pihak yang dihukum oleh Allah. Sebaliknya, Ia mewartakan kerahiman Allah. Allah yang berkuasa, yang turun tangan, akan menyatakan diri kepada orang-orang yang malang, yang miskin, lapar dan menangis (Luk 6:20-23). Kerajaan-Nya adalah kerajaan damai-sejahtera dan ini berarti pembebasan dan solidaritas menyeluruh dari ketertindasan kuasa kejahatan (bdk.Luk 10:18).


Dalam pelayanan-Nya, Ia pernah mendapat berbagai tuduhan dari para penguasa politik (pemerintah Romawi) maupun para pimpinan agama Yahudi. Ada yang menuduh Yesus sebagai seorang penghasut rakyat. Yang lain berkata, Dia adalah seorang yang termasuk kelompok Zelot yang mengobarak-abrik kekuasaan Romawi. Namun kenyataannya tidak demikian, sebab Yesus sama sekali berada di luar dunia politik. Yesus sendiri tidak menaruh perhatian pada situasi politik Romawi. Yesus tidak memperjuangkan kemerdekaan politik. Ia tidak mendukung kaum Zelot yang berjuang untuk kemerdekaan politik.


Dia tidak tahu politik menurut pemahaman para pemimpin pemerintah dan Agama Romawi. Bicara-Nya hanya tentang hal-hal surgawi saja. Dia berkeliling, berbuat baik, dan mengusir setan-setan. Semua kagum dan heran. Politik? Itu terlalu duniawi bagi Yesus. Ia biasa menjaga jarak dengan para politikus yang tidak membawa rakyat kepada realitas damai-sejahtera. Dia terlalu Suci untuk memberantas masalah-masalah yang mereduksi totalitas martabat manusia. Maka mengurus politik Romawi itu bukan urusan-Nya, sekalipun dihadapkan dengan berbagai konsekuwensi.


Yesus bukan politikus. Dia termasuk rakyat biasa. Akan tetapi, Dia mempunyai pengaruh yang sangat besar di antara rakyat jelata. Popularitas Yesus yang tinggi ini disebabkan terutama karena Dia meringankan penderitaan rakyat kecil melalui karya-karya penyembuhan. Injil Markus mencacat bahwa setiap kali setelah suatu peristiwa penyembuhan, kabar tentang Dia tersebar ke segala penjuru dan berbondong-bondong orang banyak datang setelah mereka mendengar segala yang dilakukan-Nya (Mrk 1:28;3:8).


Yesus juga selalu mengajar di tempat terbuka dan bergerak di tengah-tengah rakyat. Dia mengajar di tepi danau, di dalam rumah, di tepi jalan, dan dalam rumah ibadat. Yesus selalu berbicara di depan umum, tidak pernah di tempat-tempat tersembunyi (Yoh 18:20). Bahkan Dia pun mengunjungi pasar (Mrk 6:56). Pokoknya, ke mana pun Dia pergi, Dia selalu diikuti oleh orang banyak, karena kasih-Nya.


Yesus Menggugat Kekuasaan


Hidup kegamaan di zaman Yesus dikuasai oleh banyak aturan yang disebut tradisi. Ada begitu banyak peraturan yang hanya menjadi beban bagi rakyat. Orang kecil yang tidak sanggup melaksanakan hal-hal serupa biasanya dipandang sebagai orang berdosa. Ia melihat penderitaan orang kecil ini. Karena itu, Dia dengan sengaja tidak mempedulikan, misalnya hal ketahiran ritual. Ini dilakukan dengan sengaja karena Ia melihat para pemimpin Yahudi tidak memperdulikan “belas kasihan dan kesetiaan”. Mula-mula mereka hanya heran melihat Yesus makan tidak dengan mencuci tangan-Nya. Tetapi kemudian menjadi lebih agresif dengan meminta pertanggungjawaban dari pada-Nya. Jawaban Yesus benar-benar menjadi batu sandungan bagi mereka (Mat 15:12). Mereka dituduh sebagai penindas orang kecil dan hamba uang (Mat 23:25; Luk 1137-46). Pasti Yesus lebih banyak lagi melanggar adat-istiadat Yahudi.


Keresahan yang lebih besar yang diakibatkan oleh gaya hidup Yesus ialah pergaulan-Nya dengan orang-orang berdosa. Tindakan Yesus itu dalam masyarakat Yahudi adalah haram bagi seorang pemimpin, untuk bergaul dengan orang berdosa. Bersentuhan pun tidak boleh. Orang kecil yang dimaksudkan di sini adalah rakyat jelata yang tidak mengenal hukum taurat dan tidak punya waktu atau tidak peduli untuk melaksanakannya. Orang miskin kerap disamakan dengan orang berdosa. Termasuk pula para pemungut cukai, pelacur, perampok dan gembala.


Kebencian para pemuka agama Yahudi terhadap Yesus makin menjadi-jadi karena para pemungut cukai dan orang-orang berdosa yang direndahkan itu dikatakan lebih baik daripada mereka (Mat 21:28-32). Orang-orang itu masuk kerajaan surga tetapi mereka sendiri dikucilkan. Dengan demikian, kita dapat mengabil kesimpulan secara permanen bahwa Yesus adalalah Guru Politik yang baik demi kebaikan dan kesejahteraan bersama (bonun commune). Ia adalah Guru kebijaksanaan rakyat dan semua bangsa demi perdamian abadi.


Refleksi Kritis


Situasi di Papua zaman sekarang sama persis dengan situasi yang dialami oleh Yesus pada zaman-Nya. Masalah politik sangat menguak ketimbang masalah kebenaran, keadilan dan perdamaian. Dalam keadaan seperti itu, Yesus masuk dalam dunia orang berdosa dan orang kecil, hidup dan bergaul bersama mereka sambil mengajar dan mewartakan tentang kebenaran, keadilan, makna kemiskinan dan perdamaian (Kerajaan Allah).


Kini Gereja Papua berada dalam tuntutan untuk meneladani teladan Yesus. Karena rakyat Papua berada dalam suatu “ancaman” yang mengakibatkan umat menderita, tertindas, tersingkir dan melarat di negerinya sendiri. Padahal Papua terkenal dengan kekayaan Sumber Daya Alam (SDM) yang kaya raya.


Tuntutan untuk Gereja Papua adalah turun di tengah umat dan mewartakan serta mengajarkan Sabda Allah. Agar Sabda Allah itu benar-benar bertumbuh dan berkembang di dalam setiap hati umat secara personal. Dan hal ini bukan saja kepada orang miskin, lamah, tertindas dan tersingkir tapi juga kepada para penguasa/pemimpin daerah. Supaya mereka dengar dan memahami tentang ajaran Allah kepada kita. Supaya mereka (para politikus) mengerti akan keadailan, kejujuran, kebenaran dan perdamaian sehingga mereka boleh menyadari akan perlakuannya.


Berguru pada Sang Guru adalah juga tuntutan untuk meneladani segala perbuatan oleh Sang Guru sendiri. Gereja harus menjadi garam dan terang dunia, di Papua sebagai wujud kasih Allah kepada kita. Karena Allah mau supaya kita semua menjadi umat-Nya.


Saya pikir, Gereja Papua ini mestinya berlandaskan pada “…Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa, dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka segala sesuatu yang Kuperintahkan…,” (Mat 28:19). 


Penulis adalah alumnus pada STFT “Fajar Timur” Abepura

Dibaca 513 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.

INDEX