8 Sandera Bebas Setelah Ditebus 500 Juta | Pasific Pos.com

| 26 May, 2019 |

8 Sandera Bebas Setelah Ditebus 500 Juta

Beri rating artikel ini
(0 voting)

Ilustrasi.

Wamena,- Delapan karyawan PT Waskita Karya, sempat disandera. Kamis malam sekitar pukul 23.00 WIT di basecamp  PT Waskita  Karya distrik Mugi kabupaten  Nduga didatangi oleh Terinus Unuee. Terius  datang dan mengetuk pintu
Basecamp dan salah satu karyawan membuka pintu dan melihat di depan ada  5 orang bersenjata salah satunya menggunakan kampak. Kelompok ini dipimpin oleh Panglima TPM/OPM  wilayah Mapenduma, Mugi,  Mbua, dan Kujawage yang bernama Silas Kogoya.
Kelima orang ini menggunakan topeng atau penutup muka dan  membawa senjata laras panjang 4 pucuk dan 1 pucuk laras pendek.  Silas Kogoya mengaku bawah dirinya bersama anggotanya sudah kehabisan bahan makanan  dan minta tebusan uang  sebanyak 5 Milyar. Pembayaran tebusan  dikasih waktu sampai tanggal  14 juni 2015.
Delapan orang sandera ini terdiri dari satu perempuan dan tujuh laki laki. Nama nama yang disandera, Kasirin (38), Darno  (30), Dudung  (27), Boby, Marno, Indah, Alpons dan Dominggus (29).
Setelah penyanderaan itu pihak perusahan berkomunikasi dengan pimpinan pusat karena perusahan PT WASKITA KARYA adalah perusahaan BUMN. Dan diperoleh kesepakatan biaya tebusan sebesar 500 juta.
Setelah ada kesepakatan _Udin selaku humas perusahaan dengan menggunakan pesawat Susi Air berangkat ke Mugi.  Hari Minggu pagi sekitar pkl 07.30 WIT tim penyelamat tiba di Mugi kabupaten  Nduga dan langsung  melaksanakan  nego transaksi lewat kurir atas nama Terinus Unnue.
Dan begitu semua sandera sudah di atas pesawat, langsung diterbangkan ke Wamena dengan pesawat yang sama.
Para sandera dalam kondisi sehat walau tampak mengalami trauma.
Kepala suku besar Mugi Jakaruma Kogoya menjadi saksi dan penjamin. Selanjutnya pekerjaan jalan tetap akan dilanjutkan pada satu minggu kedepan.
Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) XVII/Cendrawasih, Letkol Teguh Pudji yang dihubungi membenarkan kasus penyanderaan ini. "Awalnya masalah ini ditutupi karena pihak perusahaan takut kejadian tersebut akan menghambat pekerjaan yang sedang dilaksanakan apabila melibatkan aparat keamanan dan akan mengancam karyawannya di lapangan," ujar Kapendam. (Fani)

Dibaca 846 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.