Dituduh Sebagai Jaringan Radikal, Ustadz Hasbi Khair Angkat Bicara | Pasific Pos.com

| 19 May, 2019 |

Gedung Yayasan Mutiara Ilmu Sunnah. Gedung Yayasan Mutiara Ilmu Sunnah.

Dituduh Sebagai Jaringan Radikal, Ustadz Hasbi Khair Angkat Bicara

Headline Penulis  Rabu, 23 Mei 2018 20:12 font size decrease font size increase font size 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

JAYAPURA,- Ustadz Hasbi Khair selaku pembina Yayasan Mutiara Ilmu Sunnah mengkalifikasi terkait isu yang beredar di tengah masyarakat termasuk media lokal yang menyebutkan enam orang dari Jamaah Yayasan Mutiara Ilmu Sunnah yang diduga merupakan jaringan kelompok radikal adalah informasi tidak benar.

Menurut Hasbi masyarakat terprovokasi oleh informasi dari apa yang dituduhkan oleh pengurus masjid di Komplek Perum Pemda I Entrop, terhadap pihaknya melalui pengeras suara. Sehingga timbul berbagai persepsi masyarakat mengingat situasi teror bom di tanah air saat ini, hingga pihaknya dituduh sebagai jaringan dari kelompok radikal tersebut.


"Tuduhan itu berawal dari seruan bernada provokasi melalui pengeras suara yang dilakukan seorang yang berinisial H.ARI. Akibat seruan itu, maka warga sekitar 50-60 orang lebih berkumpul, bahkan sebagian yang datang dipengaruhi minuman keras. Kemudian mereka berteriak teroris, radikal, penjahat dan tuduhan tak berdasar lainnya. Dalam suasana itu, sebagian warga yang hadir mulai melempari atap yayasan," ungkap Hazbi, Rabu (23/5) siang.


Dirinya juga meluruskan pemberitaan terkait aktifitas di teras mesjid berupa buka puasa yang tidak mendapat ijin. Kata Hazbi, hal tersebut tidak benar, sebab pihak yayasan sudah meminta ijin secara lisan kepada pengurus mesjid dan pemberian ijin itu disaksikan salah seorang warga yang biasa di panggil Pak Anas, juga merupakan jamaah yang rajin sholat di masjid itu.


Hazbi menyayangkan sikap masyarakat yang menolak keberadaan yayasan tersebut di Komplek Perum Pemda 1. Sementara dikatakan, kepolisian sektor Jayapura Selatan telah memeriksa seluruh isi gedung yayasan serta legalitas pendirian yayasan itu dengan disaksikan oleh pihak yang mencurigai keberadaan mereka.


Hazbi menegaskan, Yayasan Mutiara Ilmu Sunnah bukanlah jaringan islam radikal. Melainkan adalah institusi pendidikan islam dengan metode pembelajaran Islam yang sesungguhnya, yakni menangkal pemahaman yang menyimpang dalam agama seperti Khowarij (saat ini ISIS) dan meluruskan pemahaman yang menyimpang lainya.


"Yayasan kami bergerak di bidang keagamaan salah satunya telah membuka Taman Pengajian Al-quran (TPA), melalui TPA ini kami menanamkan prinsip-prinsip Akidah Ahlu Sunnah wal Jamaah sejak dini kepada generasi muda Islam sesuai yang dipaham salafussoleh, sehingga kelak mereka tumbuh diatas jalan yang baik, sehingga terhindar dari pemahaman yang meyimpang dari agama," terangnya.


Hazbi berharap, proses mediasi terkait kesalahpahaman ini oleh kepolisian dapat segera terwujud, agar aktifitas yayasan tersebut berjalan seperti biasanya.


Sementara itu, Kapolsek Jayapura Selatan Kompol Nursalam Saka saat dihubungi HPP, Rabu (23/5) sore, mengatakan bahwa kedua belah pihak yang bertikai telah sepakat untuk melakukan proses mediasi lanjutan dengan melibatkan unsur instansi agama dan Kesbangpol Kota Jayapura. Sembari menunggu proses itu, pihaknya meminta kepada pengurus Yayasan Mutiara Ilmu Sunnah untuk sementara menghentikan aktifitas belajar mengajar demi alasan keamanan.


"Mereka telah kita periksa dan tidak ada ditemukan unsur radikalisme di Yayasan itu, akta pendiriannya juga lengkap. Namun kita meminta kepada pihak yayasan dan disepakati untuk berhenti beraktifitas sementara sehingga tidak menimbulkan masalah baru dengan pihak yang keberatan. Untuk mediadi lanjutan akan kita koordinasikan dengan Polresta dan unsur terkait di pemerintahan Kita Jayapura," terang Nursalam.

Dibaca 340 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.