Kapolda : Serpihan Proyektil Kasus Paniai Bukan Milik Polisi | Pasific Pos.com

| 16 July, 2019 |

Kapolda : Serpihan Proyektil Kasus Paniai Bukan Milik Polisi

Beri rating artikel ini
(0 voting)

“Dari Hasil Pemeriksaan Proyektil yang Dimuntahkan dari 16 Senjata Polsek Paniai Timur”

Jayapura,- Kepala Kepolisian Daerah Papua, Insepktur Jenderal Polisi Yotje Mende mengklaim serpihan proyektil yang mengenai tubuh empat korban di Panai tidak identik atau tidak sesuai dengan proyektil yang dimuntahkan dari senjata anggota Polsek Paniai Timur.
Kepastian ini, kata Kapolda, sebagaimana hasil Laboratorium Forensic serta pemeriksaan peluru yang berasal dari  6 senjata Revolfer dan 10 senjata laras panjang yang dimiliki Polsek Paniai Timur.
“Tidak ada senjata api milik Polsek Paniai Timur yang sama atau sesuai dengan proyektil yang ditembakan tersebut. Kita sudah periksa senjata-senjata api di jajaran anggota Polsek Paniai Timur,” beber Kapolda usai memimpun sertijab di Aula Rastra Samara, Kamis (4/6).
Pihaknya berencana, kata Kapolda, akan melakukan pemeriksaan lanjutan terhadap 92 pucuk senjata api milik Polres Paniai yang terdiri dari 32 senjata jenis Revolfer dan 62 senjata laras panjang. “Pemeriksaan  92 pucuk senjata api  milik Polres Paniai akan dilakukan di Paniai dengan disaksikan masyarakat,” katanya.
Kapolda juga menyebutkan babhwa saat ini Tim Independen masih melakukan Investigasi di Paniai sekaligus mengkonfirmasi untuk memback Up Polda Papua. Tim ini, sambungnya, akan bertugas selama 2 Minggu untuk mencari bukti-bukti di Paniai maupun Nabire.
“Kalau terbukti, pelakunya orang sipil, maka akan diproses, kalau anggota Polisi maka juga akan diproses. Hasilnya belum bisa disimpulkan, sebab tim Independen bentukan Menkopolhulkam sedang berlangsung di Paniai dan mereka berada di Paniai dan di Nabire,” urainya.
Dalam pencarian bukti-bukti, Kapolda mengaku terkendala persetujuan dari pihak keluarga korban. Padahal, ia menyakini ada satu proyektil yang masih utuh berada didalam jasad salah satu korban penembakan.
“Penggalian mayat inilah yang sekarang dilakuan dengan pendekatan kepada keluarga korban. Penggalian mayat diyakini bisa terungkap kasus ini, namun pengungkapan ini akan memakan proses panjang, rapi dan akurat sehingga tidak terjadi salah sangka,” katanya.
Selain meminta persetujuan keluarga korban, Kapolda juga telah persetujuan Bupati setempat, Tokoh Adat. “ Mereka memberikan dukungan dan tinggal stage keluarga korban. Bila keluarga setujui maka, stage penggalian mayat bisa dilakukan dan kejadian itu bisa terungkap,” kata Kapolda. (Syaiful)

Dibaca 458 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.