Bangun Smelter Butuh Kajian Khusus | Pasific Pos.com

| 17 July, 2019 |

Bangun Smelter Butuh Kajian Khusus

Beri rating artikel ini
(0 voting)

Surabaya,- Kebijakan pemerintah daerah (Pemda) Propinsi Papua agar pembangunan pabrik pemurnian atau yang lebih dikenal dengan nama Smelter dapat dilakukan di Papua tepatnya di kabupaten Mimika patut mendapat dukungan dari semua pihak.
Namun, untuk mewujudkan pembangunan smelter ini tentunya memerlukan studi kelayakan dan kajian kajian khusus. Demikian dikatakan Apolo Safanpo ST, MT , akademisi Universitas Cendrawasih kepada wartawan usai kunjungan ke PT Smelting Gresik minggu lalu.
Menurut Safanpo, pembangunan smelter akan mempercepat pembangunan pabrik pabrik penunjang lainnya. Dan tentunya dengan adanya industri besar akan meningkatkan perekonomian rakyat, sehingga kebijakan ini patut didukung.
Namun Safanpo mengingatkan, bahwa pembangunan smelter akan memakan waktu yang panjang dan juga memerlukan beberapa studi kelayakan yang juga memakan waktu kurang lebih satu hingga dua tahun.
Studi kelayakan yang harus dilakukan antara lain, mengindentifikasi kelayakan tekhnis lokasi pembangunan, studi kelayakan lingkungan serta studi kelayakan finansial.
Indentifikasi kelayakan tekhnis antara lain pembebasan lahan, apakah telah tersedia infrastruktur jalan yang memadai, apakah telah tersedia pelabuhan yang sesuai dan hal lainnya. Sementara studi kelayakan lingkungan bisa menyangkut tentang kesiapan sumber daya manusia (SDM). Serta yang terpenting adalah kelayakan finansial. Apakah kita telah memiliki dana yang cukup atau investor yang sesuai untuk pembangunan ini sehingga pembangunan tidak terhenti.
"Studi kelayakan makan waktu satu tahun. Setelah itu kita harus ada perencanaan berupa Detail Engineering Design (DED). Untuk DED ini juga dibutuhkan satu tahun," ujar Apolo Safanpo.
Setelah itu barulah dimulai pembangunan fisik pabrik smelter. Dan ini membutuhkan waktu kurang lebih 4 tahun.
Ketika ditanyakan berapa kira kira dana yang dibutuhkan, secara lugas Safanpo mengatakan belum dapat diprediksi. "Dana yang dibutuhkan tergantung besar kecil pabrik yang akan dibangun," ujarnya.

PENYERAPAN SDM KECIL
Apolo Safanpo juga mengingatkan bahwa dalam kesehariannya, pabrik smelter hanya memerlukan tenaga kerja yang memiliki disiplin ilmu dan jumlahnya hanya sedikit.
"Kita harus mempersiapkan Sumber Daya Manusianya dulu dengan beberapa disiplin ilmu seperti ahli pertanahan, ahli geologi, ahli pertambangan, ahli listrik," ujarnya
Dikatakan pula pabrik smelter merupakan pabrik yang multi tekhnologi. Dimana tenaga kerja yang digunakan hanya berkisar 500 orang, dan bisa saja makin berkurang sejalan dengan kemajuan tekhnologi.

PABRIK PENUNJANG WAJIB DIBANGUN
Pabrik smelter menghasilkan kerak tembaga dan asam sulfat yang merupakan zat kimia yang cukup berbahaya. Sehingga dalam pembangunan smelter, wajib juga dibangun pabrik pupuk dan pabrik semen yang nantinya akan menampung limbah limbah yang dihasilkan oleh pabrik smelter ini.
Selain itu infrastruktur tenaga listrik menjadi kebutuhan utama. "Tidak mungkin kita menyuplai dari PLN sehingga harus dibangun industri pembangkit listrik," ujar Safanpo.
Selain itu infrastruktur jalan menjadi kebutuhan utama selain pembangunan pelabuhan.
Melihat berbagai kelayakan yang harus dibangun terlebih dahulu, Apolo Safanpo berpesan agar, studi kelayakan segera dilakukan sehingga pembangunan pabrik smelter dapat dilakukan dengan sebaik baiknya demi peningkatan kesejahteraan dan perekonomian rakyat Papua. (Fani)

Dibaca 759 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.

INDEX