Hakim Ijinkan Thomas Ondy Berobat ke Jakarta | Pasific Pos.com

| 24 May, 2019 |

Sidang kasus korupsi bupati Biak Numfor, Thomas A.E. Ondy, SE, Jumat (27/10/17). Sidang kasus korupsi bupati Biak Numfor, Thomas A.E. Ondy, SE, Jumat (27/10/17).

Hakim Ijinkan Thomas Ondy Berobat ke Jakarta

Headline Penulis  Jumat, 27 Oktober 2017 20:43 font size decrease font size increase font size 0
Beri rating artikel ini
(2 voting)

Jayapura, Sidang kasus korupsi sebesar 84 milyar yang melibatkan bupati Biak Numfor, Thomas A.E. Ondy, SE kembali digelar Jumat (27/10/17).

Sidang kali ini dengan agenda mendengarkan keterangan para saksi. Keterangan rekam medik oleh saksi ahli dr. Heri Budiyono, Sp.U menyatakan bahwa benar terdakwa mengalami sakit batu ginjal kanan dan kiri, hipertensi dan peningkatan kolesterol dan terdakwa harus segera melakukan pergantian dg stent dikarenakan sudah terlambat 2 (dua) bulan.

"Bisa pemeriksaan dilakukan di Jayapura, namun beliau mempunyai riwayat operasi di RS. Siloam Jakarta, sehingga lebih baik dilakukan pemeriksaan di tempat awal terdakwa melakukan operasi," ujar sang dokter.

Sementara itu dr. Bacilius A. Priyosantoso menyatakan terdakwa mengalami sakit gagal ginjal, sehingga dilakukan operasi dimana telah dipasang dengan stent pada ginjal bagian kanan, yamg berdampak pembengkakan pada ginjal bagian kiri.

"Operasi untuk pergantian dengan stent saja bisa dilakukan dalam waktu 1 hari, untuk observasi setelah pelaksanaan operasi dibutuhkan waktu sekitar 1 (satu) minggu hingga 10 hari. Namun apabila pelaksanaan penggantian dengan stent dan dilanjutkan dengan operasi pengangkatan ginjal membutuhkan waktu observasi selama 1 (satu) bulan, ujar sang dokter.

Sementara itu secara pribadi terdakwa meminta Majelis Hakim agar merubah status penahanan menjadi tahanan kota, yang mana saat melakukan kontrol kesehatan tidak memerlukan surat izin dari pengadilan negeri.

Serta meminta izin kepada Majelis Hakim untuk mengabulkan permintaan untuk melakukan kontrol kesehatan terkait penyakit yang diderita di RS. Siloam Jakarta.

Mendengar peemohonan terdakwa dan keterangan saksi ahli, maka ketua majelis hakim, DR.H. Prayitno I. Santosa, SH. MH menyatakan tidak dapat mengabulkan permohonan terdakwa terkait permintaan untuk penahanan kota, dikarenakan apabila hanya menjadi tahanan kota terdakwa tidak dapat melakukan kontrol kesehatan sesuai dengan keterangan ahli dan permintaan terdakwa di RS. Siloam Jakarta.

Majelis Hakim mengabulkan permintaan terdakwa untuk melakukan pemeriksaan kesehatan di RS. Siloam Jakarta dengan tenggang waktu tanggal 27 Oktober 2017 s/d 07 Desember 2017 dengan pengawalan dari Kejaksaan Negeri Jayapura, Pihak Kepolisian dan Lapas Kelas IIA Abepura.

Dibaca 1129 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.