Disinyalir Jamaah Jaji Kota Jayapura Mendapat Pelayanan Kurang Baik | Pasific Pos.com

| 13 December, 2019 |

Kepala Kementerian Agama Kota Jayapura, Syamsuddin. Kepala Kementerian Agama Kota Jayapura, Syamsuddin.

Disinyalir Jamaah Jaji Kota Jayapura Mendapat Pelayanan Kurang Baik

Kota Jayapura Penulis  Senin, 02 Oktober 2017 18:19 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

JAYAPURA, - Sebanyak 310 orang jamaah haji Kota Jayapura telah kembali pada September 2017 usai menunaikan ibadah di Mekkah, Arab Saudi.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 270 orang berada di kloter delapan yang bergabung dengan beberapa kabupaten di Papua. Lalu, 40 orang lainnya begabung di kloter sembilan dengan beberapa kabupaten di Papua dan lintas provinsi di Indonesia.

Dalam perjalanan menunaikan rukun ke lima ini, disinyalir jamaah haji Kota Jayapura mendapatkan pelayanan kurang baik terutama layanan kesehatan.

"Saya belum mendapatkan informasi detail. Apakah yang mendapatkan itu dari kloter delapan atau sembilan tetapi prediksi saya ini dari kloter sembilan. Dimana yang dikeluhkan adalah pelayanan kesehatan dalam kloter sembilan itu," kata Kepala Kementerian Agama (Kemenag) Kota Jayapura Syamddin di Kantor Kementerian Agama Kota Jayapura, Senin (2/10/17).

Bagi umat Islam, tidak menunaikan ibadah haji rasanya tak sempurna jika rukun Islam ke lima ini tidak dilaksanakan. Namun, tidak semua orang bisa melaksanakan ibadah haji. Hanya bagi orang-orang yang mampu, baik materi dan fisik.

Diakui Syamsuddin, setiap petugas yang menyertai jamaah haji disediakan lima petugas yang diberi amanat, yaitu petugan Tim Pemandu Haji Indonesia (TPHI), Tim Pembimbing Ibadah Haji Indonesia (TPIHI) dan tenaga kesehatan dibantu para medis.

"Kalau yang dikeluhkan jamaah haji kita di kloter sembilan itu pelayananya tidak maksimal saat memeriksakan diri di posko atau ruangan kamar tim kesehatan, namun tidak direspon, secara psikologis ini tidak baik," kata Syamsuddin.

Atas kejadian dimaksud, Kementerian Agama Kota Jayapura akan melakukan evaluasi dengan harapan agar petugas dalam kelompok terbangnya dalam menyertai jamaah secara maksimal seperti pelayanan medis.

"Ini mungkin yang tidak diterjemahkan atau tidak pahami dengan baik. Apalagi kalau lebih prioritas. Kebetulan memang dokter di kloter sembilan itu dari Makassar sehingga dalam pelayanannya terkesan pilih kasih atau tidak merata. Ini menjadi masukan untuk kami sampaikan kepada pihak yang lebih tinggi," kata Syamsuddin.

Terkait dokter khusus yang menyertai jamaah haji asal Kota Jayapura, kata Syamsuddin, rekrutmen dari tenaga medis baik dokter dan tenaga medis dipilih melalui tes secara online. Bukan dari masing-masing Kementerian Agama di daerah yang menentukan tapi melalui Kementerian Kesehatan Indonesia.

"Tapi untuk yang Kementerian Agama baik TPHI maupun TPIHI itu masih dari orang-orang yang ada di Papua walaupun masih wilayah kabupaten," kata Syamsuddin.

Dibaca 387 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.