Pencemaran Wilayah Laut Teluk Doreri Melebihi Ambang Batas | Pasific Pos.com

| 15 December, 2019 |

Pencemaran Wilayah Laut Teluk Doreri Melebihi Ambang Batas

Papua Barat Penulis  Senin, 07 Agustus 2017 00:10 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

Manokwari, – Berdasarkan hasil kajian ilmiah, sejak 2002, 2010, dan 2015, wilayah laut Teluk Doreri, Kabupaten Manokwari serta sumur warga, tercemar akibat kotoran manusia yang dibuang ke laut.
Menurut Kepala Laboratorium Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Papua, Manokwari, Yahiel H. Dasmasela, pencemaran itu sudah melebihi ambang batas.
Diutarakan Dasmasela, bakteri E-Coli yang terdapat dalam usus manusia, ketika membuang hajat akan terbuang bersama dengan bakteri E-Coli.

Lanjut dia, ketika terbawa ke laut, maka terjadilah proses pencemaran yang tinggi. “Kalau kita biarkan dalam jangka waktu lama, pada akhirnya laut akan tercemar dan biota laut, termasuk ikan yang kita makan akan tercemar dan berbahaya bagi kita,” ungkap Dasmasela kepada para wartawan di sela-sela kegiatan kuliah kerja nyata (KKN) mahasiswa Unipa Manokwari di Distrik Manokwari Barat, Kelurahan Padarni, RW 05/RT 01, Jumat (4/8).
Ia menerangkan, untuk mengurangi dampak pencemaran, mahasiswa Unipa yang sekarang melakukan KKN di daerah Teluk Doreri bersama ilmuan Unipa mencoba mendesain septi tank atau jamban pesisir secara sederhana.
Dasmasela mengungkapkan, hal ini sudah dicoba dan berdasarkan hasil uji laboratorium yang dilakukan beberapa kali dari 2010, ternyata jamban pesisir sederhana ini bisa mengurangi dampak pencemaran laut, khususnya di Teluk Doreri.
“Di tahun 2002, 2010, dan 2015, tingkat pencemaran di laut Teluk Doreri cukup tinggi sesuai hasil penelitian kita. Namun, dengan menggunakan jamban pesisir sederhana ini bisa mengurangi tingkat pencemaran. Ini terbukti dari hasil pengujian lab yang kami lakukan,” katanya.
Ia mengutarakan, proses kerja dari jamban pesisir sederhana, yakni kotoran manusia tidak langsung dibuang ke laut, tetapi akan diproses di dalam jamban. Selanjutnya, setelah melalui proses, baru dibuang ke laut, sehingga mengurangi dampak pencemaran.
Dikatakan Dasmasela, jika hal ini direspon dengan baik oleh Pemkab Manokwari, maka jamban sederhana ini akan dilakukan di seluruh pesisir Manokwari.
Dosen Fakultas Kelautan Unipa ini, mahasiswa KKN sudah memasang jamban sederhana di beberapa titik, yakni di Fanindi Pantai sebanyak 3 titik dan di Borobudur sebanyak 3 titik.
Ia menambahkan, kajian ilmiah yang dilakukan terhadap tingkat pencemaran, bukan saja di Laut Teluk Doreri, tetapi di sumur dan terbukti sudah tercemar, bahkan hasilnya sudah dipublikasikan.
“Kita juga sudah melakukan sosialisasi kepada masyarakat dan masyarakat yang hidup di bantaran sungai. Sebab, waktu hujan, sampah yang dibuang di sungai akan terbawa ke laut dan terjadilah pencemaran,” jelas Dasmasela.
Dirinya berharap ada kesadaran masyarakat untuk mengelola sampah dan melalui kegiatan KKN ini, pihaknya mengajak masyarakat mengelola sampah menjadi bahan ekonomis.
Sementara Ketua RW 05/RT 01, Kelurahan Padarni, Distrik Manokwari Barat, Hans L. Awom menuturkan, kegiatan mahasiswa KKN Unipa ini, tentu berdampak dan bermanfaat terhadap masyarakat di daerah pesisir pantai.
“Kita tahu masyarakat pada umumnya membuang limbah manusia langsung ke laut dan ini bisa menyebabkan dampak pencemaran lingkungan,” katanya.
Dengan program dari mahasiswa KKN Unipa ini, Awom mengaku, masyarakat di RW 05/RT 01 sangat antusias.
Untuk itu, ia berharap program ini harus ditindaklanjuti, dimana pemerintah dan akademisi bisa bersinergi ke depan, sehingga jamban sederhana ini bisa dipasang, bukan hanya di Kelurahan Padarni, tetapi di seluruh wilayah pesisir Papua Barat, khususnya Manokwari. [FSM-R1]

Dibaca 1030 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.

INDEX