Anggota Komisi I Minta Kapolri Tarik Brimob Dari Deiyai | Pasific Pos.com

| 23 July, 2019 |

Anggota Komisi I DPR Papua, Laurenzus Kadepa. Anggota Komisi I DPR Papua, Laurenzus Kadepa.

Anggota Komisi I Minta Kapolri Tarik Brimob Dari Deiyai

Headline Penulis  Rabu, 02 Agustus 2017 22:57 font size decrease font size increase font size 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

JAYAPURA - Insiden penembakan terhadap belasan warga Kampung Oneibo, Distrik Tigi Barat, Kabupaten Deiyai yang diduga dilakukan oknum aparat gabungan dan Brimob, mendapat tanggapan serius dari Anggota Komisi I DPR Papua, Laurenzus Kadepa.

Ia tegas mengatakan, mengutuk tegas pelaku penembakan, lantaran telah memakan satu nyawa dan belasan orang luka-luka.  “Kami mengutuk pelaku, kami mengutuk yang perintah, kami mengutuk perusahan yang merampok!, apapun bentuknya nyawa manusia tidak bisa ditukar dengan apapun,” tegasnya kepada wartawan di Jayapura, Rabu (2/8).

Pasca penembakan itu, Kadepa mengaku telah berkomunikasi dengan berbagai pihak di Kabupaten Deiyai, diantaranya DPRD Deiyai, tokoh agama, pemuda, masyarakat, LSM masih berjalan.
Ia juga sudah mendapat informasi termasuk data lengkap terkait kejadian tersebut, dimana awalnya ada warga yang tenggelam di Kali Oneibo, kemudian warga meminta bantuan kendaraan untuk mengevakuasi korban ke rumah sakit kepada perusahaan yang membangun jembatan tidak jauh dari lokasi tersebut.

Namun, perusahaan tersebut tidak mau membantu dan akhirnya mencari bantuan kendaraan yang cukup jauh dan akhirnya dapat kendaraan untuk mengevakuasi warga yang tenggelam tersebut ke rumah sakit di Enarotali, namun dalam di rumah sakit korban tak tertolong lagi.

baca juga, Lima Tuntutan Dewan Adat Meepago Untuk Kasus Deiyai

Kemudian, warga menuju ke camp perusahaan yang membangun jembatan dan melampiaskan emosinya dengan membongkar tenda, kemudian pimpinan perusahaan itu memanggil polisi hingga terjadi insiden penembakan tersebut.
 “Saya juga dapat telepon dari petugas TNI, Samuel Pakage. Beliau sudah jelaskan sama kronologisnya, saya juga komunikasi dengan pihak gereja, pastor dan saksi mata pada prinsipnya kronologisnya sama,” katanya.

 Pada prinsipnya, ia dari DPR Papua sempat menanyakan sikap dari DPRD Kabupaten Deiyai.  “Sikap mereka ada tiga, diantaranya mereka meminta oknum aparat gabungan dan Brimob yang menembak mati warga dan belasan luka-luka segera ditangkap dan diproses hukum,” kata Kadepa.

 Selain itu, lanjut Kadepa, menurut keterangan mereka (DPRD Deiyai),  selama ini banyak masalah terjadi di Deiyai, tapi Brimob selalu tidak meyelesaikan penyelesaian bukan dengan pendekatan yang baik, tapi selalu dengan cara represif terus.  Tidak hanya itu, markas mereka diduga dijadikan tempat jualan togel.

 “Mereka meminta Brimob yang ada di Deiyai dipindahkan. Itu permintaan dari DPRD Deiyai kepada kami untuk meminta dukungan,” katanya.
 Selain itu, mereka menilai perusahaan PT Dewa Krisna Pusaka yang sudah lama beroperasi di Paniai, Deiyai dan Dogiyai yang selama ini mengelola dana besar, namun tidak pernah ada kontribusi positif kepada masyarakat.

“Makanya mereka meminta Bupati Paniai, Deiyai dan Dogiyai untuk mencabut ijin operasional perusahaan tersebut,” tegasnya.
 Tidak hanya itu, mereka meminta proses hukum terhadap siapapun oknum aparat yang terlibat melakukan penembakan terhadap warga Deiyai tersebut.

 “Kami DPR Papua sudah mengumpulkan data-data meski belum turun ke lapangan, tapi kami dalam waktu dekat akan bicara dengan pimpinan kami untuk langkah selanjutnya,” katanya.
Yang jelas, dari semua data yang dikumpulkannya, kata Laurenzus Kadepa, warga ditembak seperti hujan peluru. “Kapolda bilang itu, peluru karet. Tapi, banyak foto yang mereka kirim bahwa itu bukan peluru karet,” tandasnya.

Untuk itu, pihaknya meminta Kapolri segera mengevaluasi penempatan Brimob di Deiyai, Paniai, Dogiyai bahkan seluruh Pegunungan Papua, karena kehadiran Brimob itu sangat meresahkan warga.
 “Saya minta segera dengan tegas, kapolri segera evaluasi dan mencabut penempatan Brimbo di wilayah gunung. Kalau memang tidak bisa dicabut, segera evaluasi besar-besaran penempatan Brimob itu, bahkan DPRD Deiyai resmi juga meminta Brimob dipulangkan,” imbuhnya.

Soal informasi jumlah korban penembakan yang simpang siur, Kadepa menambahkan, satu orang saja korban yang meninggal itu manusia. “Untuk memastikan korbannya berapa itu, perlu tim independen segera turun ke TKP.. Tetapi bagi kami 1 orang nyawa saja itu mahal tak bisa ditawarkan dengan apapun,” pungkasnya. (Tiara)

Dibaca 622 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.

INDEX