DPRP Minta Tiga Kandidat Bupati Puncak Jaya Hadiri Perdamaian | Pasific Pos.com

| 21 May, 2019 |

Ketua Komisi I DPR Papua, Elvis Tabuni, SE Ketua Komisi I DPR Papua, Elvis Tabuni, SE

DPRP Minta Tiga Kandidat Bupati Puncak Jaya Hadiri Perdamaian

Headline Penulis  Senin, 31 Juli 2017 00:53 font size decrease font size increase font size 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

JAYAPURA ,- Ketua Komisi I DPR Papua, Elvis Tabuni, SE meminta tiga kandidat calon Bupati Kabupaten Puncak Jaya untuk duduk bersama dan menghadiri perdamaian.
Tindakan tersebut sebagai langkah konkrit agar masing-masing pendukung calon tidak lagi saling menyerang, sebagaimana konflik pasca Pilkada yang terjadi di Kampung Legimut, Distrik Pagaleme, Puncak Jaya, Sabtu 29 Juli kemarin.

“Ini sangat disayangkan, karna belum adanya pertemuan perdamaian antara ketiganya, terjadi lagi konflik bahkan kembali memakan korban  jiwa,” jelasnya kepada wartawan di salah satu rumah makan di wilayah Kotaraja, Minggu (30/70.
Konflik pasca pilkada yang menelan 1 korban jiwa, 12 orang luka panah dan 16 honai dibakar  kata Elvis Tabuni,  merupakan kejadian luar biasa yang kesekian kali terjadi selama pelaksanaan Pilkada Puncak Jaya.
Untuk itu, ia meminta kepada ketiga kandidat, masing-masing Henock Ibo, Yustus Wonda dan Yuni Wonda untuk turun bersama-sama melakukan acara perdamaian disertai dengan patah panah.
 “Sekarang ini, Yustus dan Yuni harus turun atau ketiga kandidat ke Puncak Jaya karena mereka itu adalah panglima perangnya. Kemudian patah panah, kemudian cuci darah, itu baru bisa karena massa masih belum kembali ke daerah dan mereka siaga,”  jelasnya
Ia mengaku, sebelumnya telah dilakukan acara perdamaian yang dimediasi langsung oleh  Wakil Gubernur Papua bersama Kapolda Papua dan Pangdam XVII/Cenderawasih serta Ketua DPR Papua beberapa waktu lalu.
  “Kami sudah kesana dan memberikan pemahaman kepada masyarakat. Ini hanya kepentingan – kepentingan politik. Waktu itu, kita minta masyarakat sabar menunggu keputusan MK paling lambat 2 minggu, tapi masyarakat tidak memahami itu, meski sudah dengan menggunakan bahasa setempat, tapi masih terjadi konflik lagi,” kata Elvis Tabuni, Minggu (30/7).
Memang pada penyelesaian konflik sebelumnya, aku Elvis, tidak dilakukan patah panah sesuai adat setempat, bahkan  tidak dihadiri oleh kandidat lain, yakni Yustus Wonda dan Yuni Wonda.  “Jadi, kemarin tidak ada patah panah dan cuci darah tidak dilakukan. Berarti sekarang status Puncak Jaya masih tidak aman dan terancam perang antar pendukung alias belum damai,” tandasnya.
Sehingga dengan kejadian ini, pemerintah bersama aparat keamanan kembali harus turun  untuk menyelesaikan konflik tersebut agar tidak terjadi berlarut-larut dan memakan korban jiwa maupun harta benda.
Untuk diketahui, bentrok kembali terjadi antar kelompok pendukung calon bupati di Kampung Legimut Distrik Pagaleme Kabupaten Puncak Jaya, Sabtu (29/7) siang.
Aksi ini berawal saat massa dari kubu paslon nomor 1 yang saat itu melakukan bakar batu, diserang oleh kubu paslon nomor 3.
Akibat dari kejadian tersebut, 1 orang dinyatakan meninggal dunia, 12 orang luka panah, dan 16 honai terbakar. (Tiara)

Dibaca 528 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.

INDEX