Di Puncak Cartenz Kodam XVII/Cendrawasih Mencatat Sejarah | Pasific Pos.com

| 23 July, 2019 |

Di Puncak Cartenz Kodam XVII/Cendrawasih Mencatat Sejarah

Headline Penulis  Senin, 20 April 2015 21:49 font size decrease font size increase font size 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

“Catatan perjalanan bersama Pangdam XVII/Cendrawasih ke Puncak Cartenz”

Laporan : Angel

TIMIKA,- Selasa pagi cuaca di kota Sentani tampak cerah. Pesawat maskapai penerbangan Garuda Indonesia Airways telah siap melakukan penerbangan ke Timika.
Rombongan Panglima Kodam XVII/Cendrawasih, Mayjend Fransen G. Siahaan pun bergegas memasuki pesawat.
Kesempatan yang berharga ini tidak saya lewatkan. Melalui telephon semalam, saya diajak untuk meliput HUT Brigif 20/IJK di Timika. Namun sungguh diluar dugaan, upacara HUT ini akan dilaksanakan di Puncak Cartenz. Saya saat itu tidak membawa persiapan pakaian anti dingin alias Jaket.
Kurang lebih 45 menit penerbangan, rombonganpun tiba di Bandara Moses Kilangin Timika. Tampak rombongan penjemputan yang terdiri dari Komandan Brigif 20/IJK, Dandim 1710/Timika, Kapolres Timika, dan pimpinan TNI yang ada di Timika.
Sesaat setelah istirahat dan makan siang, rombonganpun berganti kendraan di Hotel Rimba Papua. Dengan menggunakan 2 bis milik PT Freeport Indonesia dan sebuah kendaraan Roda empat, untuk Pangdam dan rombonganpun menuju kota Tembagapura.
Pangdam menyempatkan untuk mengunjungi pos-pos pengamanan yang ada di mile 39 dan mile 50. Saat bertemu para prajurit Pangdam sempat berkomunikasi menanyakan kendala-kendala yang dialami prajurit disaat melaksanakan tugas.
"Wah, wajah mu agak pucat nih. Coba kau praktekkan gerakan win'cu," ujar Pangdam kepada salah satu prajurit di mile 50.
Dengan bangga prajurit pun memperegakan gerakan yang diminta oleh sang Jenderal. Uniknya, sambil memperagakan gerakan sang prajurit entah grogi atau benar-benar lupa sempat melirik ke Ibu Bertha Siahaan (istri Pangdam). Sang ibu pun seakan mengerti permintaan anaknya, Ibu pun memperagakan gerakan dan sang prajurit mengikuti gerakan tersebut. Sungguh satu hal yang mengharukan. Ibarat anak yang meminta tolong pada ibunya, dan sang ibupun mengerti permintaan anaknya.
Perjalanan pun dilanjutkan ke kota Tembagapura. Malam itu, seluruh anggota rombongan diminta untuk beristirahat yang cukup dan diminta agar tidur secepatnya, demi menjaga kondisi fisik untuk kegiatan besok pagi.
"Kondisi di tempat upacara sangat dingin, dan oksigen pun tipis. Semua mohon cepat tidur, istirahat yang cukup," ujar Asintel Kol. Inf Immanuel Ginting.
Mendengar kata "dingin" sayapun mulai merenung, "mana lebih dingin dari kota Mulia. Waduh kalo lebih dingin, bahaya nih" kataku dalam hati. Sungguh diluar dugaan, sepertinya Asintel membaca pikiranku. Asintelpun meminta kepada adeknya yang kebetulan bekerja di Tembaga pura untuk memberikan pinjaman Jaket untuk saya.
Pagi itu, masih jam 06.00 WIT, namun para anggota rombongan sudah bersiap diri. "Coba kak, coba pake sepatu bot ini. Lumayan untuk mencegah dingin," ujar Ny Ginting saat melihatku pagi itu.
Rupanya, para ibu-ibu anggota Persit telah mencoba sepatu bot tersebut, dan tampak telah memakainya. Sayapun mencoba memakai sepatu tersebut, dan mencoba berjalan kesana kemari di dalam kamar Asintel. "Berat juga ya kak. Entar aku bisa lari ngak ya saat mengambil foto," ujarku pada Ny. Ginting. Setelah mencobanya, akupun memutuskan memakai sepatu bot. (Bersambung)

Dibaca 1820 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.