Gudang Senjata Dibobol Penjual Ikan | Pasific Pos.com

| 20 July, 2019 |

Gudang Senjata Dibobol Penjual Ikan

Headline Penulis  Rabu, 29 Maret 2017 12:18 font size decrease font size increase font size 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

Jayapura,-Terkuak sudah pencuri tujuh pucuk senjata api (Senpi) berjenis 1 brenn MK 3, UK carabine dan satu peti amunisi milik militer sekitar Ifar Gunung-Sentani beberapa puluh tahun lalu.
Gudang tempat penyimpanan senjata yang terbuat dari seng Amerika berbentuk rumah bulat  di Ifar Gunung-, Sentani dijebol oleh seorang penjual ikan keliling. Pelakunya diketahui bernama Chris, setelah membobol dan mencuri pelaku berhasil kabur membawa barang curiannya dan mengubur barang itu ke dalam tanah di hutan Ifar Gunung.

Sebelum dikubur barang curian berupa  tujuh senpi dan satu kotak amunisi dibungkus terlebih dahulu dengan terpal agar tak mudah karat bila kena air. Barang itu ditimbun dengan batu dan dikubur ke dalam tanah. Sampai sekarang senjata dan amunisi itu belum sempat digunakan.
“Tujuh pucuk senjata dan satu peti diambil, beliau pikul dan masih tersimpan di Ifar Gunung. Senjata belum dipakai, beliau telah tertangkap. Kalau Opa (Chris) bisa tunjuk tempatnya syukur sekali. Mudah-mudahan Pangdam (Kodam Cenderawasih) nanti mencarinya,” diungkapkan Marthen Luther Djari lulusan STTH Dutawacana Yogyakarta 1982 di Sentani, Papua, Sabtu (25/03).
Christoffel Leendert Korua sebagai Wakil Ketua Partai Persatuan Irian Indonesia (PPII) ternyata menyamar sebagai penjual ikan untuk mencari tahu kelemahan-keleman militer Belanda saat setelah dirinya bersama Botje Tikolau, Achmad Salampessy, dan Rulan Yosef Teppy membentuk partai itu tahun 1951.
Partai tersebut memang benar-benar bekerja sangat senyap dan tak ada satu orang pun orang tahu termasuk Belanda, yang mengetahuinya hanya anggota partai dari partai itu. Kepengurusan PPII ini berjumlah 18 orang termasuk didalamnya mantan tentara Belanda, Rulan Yosef Teppy berpangkat Sersan.
Sersan Teppy inilah ditunjuk sebagai ketua partai gerakan bawah tanah untuk mengacaukan dan memberontak pemerintahan Belanda saat itu. Tak sampai diisitu, pengurus ini PPII pun membentuk mendirikan pengurus cabang PPII di Nimboran.
Dari kejadian tersebut, Christoffel Leendert Korua si pejuang polisi yang sedang menyamar sebagai penjual ikan  akhirnya tertangkap di sebuah pabrik roti Omlo tepatnya di supermarket tengah kota Hollandia tanggal 6 Desember 1951. “Chris dan semua pengurus ditangkap. Chris dihukum oleh Belanda selama 9 tahun. Sekali sidang saat itu langsung eksekusi,” kata Marthen.
Dalam proses sidang 21 Dsember 1951 dari partai PPII yang dianggap pemberontak dan ingin mencampakkan pemerintahan Belanda di Niuew Guinea  (pemerintahan saat itu sebelum pemerintah Indonesia masuk), Hakim yang dipimpin Van Wijk sidang dalam sehari itu juga memutuskan 8 tahun penjara kepada Chris.
“Mulanya dijatuhi penjara 8 tahun, malah Chris marah dan bilang ini bukan Rechstaat. Rupanya hakim dengar dan panggil Chris, buka sidang lagi diputuskan tambah setahun jadi 9 tahun,” dijelaskan Marthen sesuai apa yang tertera di dalam buku tersebut.
Crhistoffel Leendert Korua pun harus mendekam di penjara Hollandia Benen (saat ini Abepura) dan terpisah dengan Rulan Yosef Teppy ketua PPII yang mendekam jeruji besi Belanda di Boven Digoel. Terus dan terus waktu bergulir, perjuangan Chris kini harus dilakukan pemuda pemudi Indonesia sesuai era zaman saat ini. Kisah diatas semua tertera dalam buku Crhistoffel Leendert Korua 67 Tahun Berpetualang Di Papua. (Yadi)

Dibaca 338 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.