Anak-Anak Di Yahukimo Tidak Kenal Uang Logam | Pasific Pos.com

| 25 August, 2019 |

Anak-Anak Di Yahukimo Tidak Kenal Uang Logam

Headline Penulis  Rabu, 30 November 2016 11:03 font size decrease font size increase font size 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

Yahukimo,- Miris, sebagian besar anak-anak di Dekai, Kabupaten Yahukimo tak mengenal mata uang Indonesia jenis logam. Hal ini terungkap wartawan melakukan peliputan di ibukota Kabupaten Yahukimo, Jumat - Sabtu (25-26/11) pekan kemarib.

Saat itu, cuaca yang cerah dengan sengatan panasnya matahari menusuk kulit tak mematahkan niat menelusuri pasar lama Dekai, ibukota Yahukimo itu. Setiap langkah, mataku terus menatap seorang bocah yang tengah duduk melihat lalu lalangnya orang di pasar.
Tangannya yang sedikit kotor sambil memegang petatas (ubi) rebus itu sesekali dimakannya. Perlahan didekati, bocah ini tersipu malu. Saat itu wartawan bersama  tim penukaran uang pecahan kecil (UPK) dalam program kas keliling Bank Indonesia (BI) perwakilan rovinsi Papua sibuk melakukan aktifitasnya di pasar tersebut.
"Disini (Dekai, Yahukimo) anak-anak cuma tau uang kertas. Uang koin mereka tidak tau pak. Berikan uang ke mereka (anak-anak) Rp 5.000 saja," kata Rosmita saat  hendak memberikan sebuah uang koin ke seorang anak kecil, Sabtu (26/11/2016).
Dengan penuh tanda heran, bocah berambut keriting hitam manis dan imut itu tetap mengambil uang logam yang disodorkan media ini. "Ini uang apa om? Bisa pakai beli apa kah?" kata si bocah itu dengan melihat uang logam sambil dibolak balik dengan membaca tulisan pada uang logam Rp 200 itu.
Pembagian uang logam ke seorang bocah yang berusia sekitar 6 tahun itu mengundang perhatian anak-anak kecil lainnya yang ada di pasar lama Dekai. Kurang lebih 15 anak pun berkumpul menyodorkan tangan mereka untuk mendapatkan uang logam bernilai Rp 200 dan Rp 500. "Om, om, om, sa (saya) minta juga," kata anak-anak itu.
Begitu dalamnya keingintahuan anak-anak terhadap uang koin, mereka pun mengelindingkan uang koin di depan kios-kios untuk dimainkan menyerupai roda putar sambil dikejar .
Kepolosan mereka akan hal itu, membuat tim kas keliling dan media ini memberikan pengertian apa yang mereka pegang itu adalah uang rupiah Republik Indonesia (RI) jenis logam yang dapat digunakan sama halnya dengan uang kertas.
"Memang tugas kami yang melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang rupiah, apa saja pecahannya dan nominalnya. Di Yahukimo ini perlu adanya kerjasama dari semua pihak termasuk orang tua mereka, untuk mengenalkan rupiah ke anak-anaknya," kata Anru salah satu tim Kas Keliling Bank Indonesia perwakilan Papua.
Bank Papua setempat mengaku masih banyak masyarakat di Kabupaten Yahukimo yang belum secara penuh mengenal uang rupiah Indonesia. "Masih banyak yang belum mengenal sepenuhnya mata uang kita (Indonesia), terutama anak-anak. Sehingga kami selaku perbankan yang ada disini, kedepan akan terus meningkatkan sosialisasi mengenai mata uang Indonesia termasuk kelipatan dan jenisnya," kata Kepala Cabang Bank Papua Dekai, Husein Kamisopa.
Berpindah ke lokasi kompleks Rumah Toko (Ruko) berjarak kurang lebih 200-an meter dari pasar lama. Media ini mencaritau seberapa banyak anak-anak setempat mengetahui ataupun mengenal uang logam kelipatan Rp 500, Rp 200, Rp 100 dan Rp 50 yang hingga kini masih layak edar di masyarakat.
Tak berselang lama, seorang pria memarkir motornya disekitar ruko sambil membonceng empat orang anaknya yang diperkirakan berusia 3-5 tahun menurukan anaknya dari motor. Saat dihampiri media ini, ke-empat anak itu sedikit penasaran melihat apa yang kas keliling pajang uang oin tersebut.
Seketika salah satu anggota tim berikan dua koin uang pecahan Rp 200, betapa herannya anak-anak tersebut, karena baru pertama kali melihat ada logam bergambar dan betuliskan huruf angka Rp 200. "Tidak bisa beli kue, kalo (kalau) mo (mau) beli kue pake (gunakan/pakai) uang kertas. om kasih uang kertas saja ka," kata Domi si anak asli Dekai yang  berusia sekitar 5 tahun itu.
Ini adalah bukti nyata bahwa ketidaktahuan dan kurangnya pemberi infomasi kepada anak-anak. Semoga penemuan ini menjadi pemicu pihak perbankan khususnya Bank Indonesia untuk terus melakukan sosialisasi ke mitra-mitra bank yang ada yang diteruskan kepada mereka yang belum memahami pecahan dan jenis-jenis mata uang Indonesia. (Yadi)

Dibaca 796 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.