Brimob Harus Ditarik dari Pegunungan | Pasific Pos.com

| 19 August, 2019 |

Brimob Harus Ditarik dari Pegunungan

Headline Penulis  Rabu, 31 Agustus 2016 07:43 font size decrease font size increase font size 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

Ketua DPR Papua, Yunus Wonda

 

“DPR Papua Sesalkan Arogansi Brimob di Sugapa”

Jayapura,- Insiden penembakan terhadap Otianus Sondegau (16), anak kepala suku Ethius Sondegau hingga tewas yang berujung pembakaran Kantor Polsek Sugapa dan perusakan bandara di Kabupaten Intan Jaya, 27 Agustus 2016, ditanggapi Ketua DPR Papua, Yunus Wonda.

Ketua DPR Papua, Yunus Wonda, secara tegas meminta agar aparat Brimob yang bertugas di seluruh pegunungan Papua agar ditarik kembali. “Kami minta supaya seluruh Brimob yang ada di seluruh pegunungan Papua, untuk ditarik kembali,” tegas Yunus Wonda, Selasa (30/8) kemarin.
Bahkan, Politisi Partai Demokrat itu, menilai jika mereka tidak pantas bertugas di wilayah Pegunungan Papua, karena arogan dan berlebihan. Biarlah polisi yang ada di sana dan koramil yang ada di sana, karena mereka lebih dicintai oleh rakyat, daripada Brimob.
“Kami minta Brimob dikembalikan, kecuali kondisinya berbeda. Kalau kondisi aman, untuk apa Brimob di sana? Kalau memang tangannya sudah gelisah untuk menembak orang, berangkat saja ke jalur Gaza untuk ikut perang di sana, bukan untuk membunuh orang Papua di atas tanah ini,” ketus dia.
Ia menandaskan, DPR Papua sangat prihatin dengan penembakan terhadap anak kepala suku hingga tewas tersebut. Penembakan itu, bukan solusi untuk mengatasi  masalah.
“Jika si korban mabuk, khan ada protap bagaimana melumpuhkan dia, tidak langsung menghilangkan nyawa. Kami sangat menyesalkan sikap arogansi yang dilakukan Brimob. Dan, kami tahu langkah dan gaya Brimob itu sangat brutal. Kalau memang tembak manusia, berangkat ke Gaza sana. Supaya belajar baku tembak di sana,” ujar Yunus Wonda.
Yunus Wonda meminta agar jangan membunuh orang Papua di atas tanahnya sendiri. Sudah cukup, orang Papua sudah terlalu banyak darah dan air mata di atas tanah ini, terlalu banyak janda, duda dan yatim piatu di atas tanah ini.
“Sudah berhenti membunuh. Membunuh atau menembak orang itu bukan solusi. Kasih lumpuhkan dia dengan menembak kakinya atau apa, bukan langsung menembak untuk menghilangkan nyawa,” tegas Yunus Wonda.
Sebagai pimpinan DPR Papua, ia sangat kecewa dengan sikap arogansi dan sikap emosial yang dilakukan aparat di Sugapa, Intan Jaya. Untuk itu, pelaku penembakan harus dihukum seberat-beratnya, bukan dibiarkan begitu saja. Ia mengharapkan Kapolda Papua dapat menghentikannya.
Terkait minuman keras (miras) yang menjadi penyebab awal insiden itu, Yunus Wonda menegaskan, keputusan penutupan miras itu, dampaknya saat ini.
Semua pejabat di Papua, dalam hal ini para bupati, harus tegas menghentikan minuman keras ini. “Jangan melihat, wah ini perdanya belum kuat, itu tidak usah. Nyawa orang Papua itu lebih penting, itu yang harus diselamatkan,” kata Yunus Wonda.
Yunus Wonda menambahkan, apalagi ada beberapa kasus dalam beberapa minggu terakhir ini, akibat miras mengakibatkan korban, sehingga harus dihentikan peredaran miras di Papua.
“Perda itu menjadi landasan untuk kita semua menghentikan miras di atas tanah ini. Kalau hari ini, masih ada orang yang mengatakan, itu untuk PAD. Uang itu tidak menyelamatkan orang Papua,” tutupnya. (Yuni)

Dibaca 668 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.

INDEX