570 Pengungsi Mimika Saat Ini Harapkan Bantuan Pemerintah | Pasific Pos.com

| 17 July, 2019 |

570 Pengungsi Mimika Saat Ini Harapkan Bantuan Pemerintah

Headline Penulis  Jumat, 29 Juli 2016 15:17 font size decrease font size increase font size 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

Tampak para pengungsi yang berdiam diri di tenda pengungsian, Sentani, Kamis 28 2016

 

SENTANI -  Sebanyak 570 pengungsi jemaat Gidi  yang berasal dari Kabupaten Mimika Distrik Kwamki Narama kampung Jile Jale SP III, kamis pagi (28/7) sekitar pukul  08.30 wit tiba  di Kabupaten Jayapura. Saat ini mereka ditampung di Posko  Lapangan Asrama Toli Palomo, Sentani.

Koordinator  Pengungsi Mimika, Jhony Wonda ditemui wartawan di Posko Pengungsi Mimika menyatakan,  570 Pengungsi asal Mimika tersebut terdiri dari, KK berjumlah 250 orang dan sementara anak-anak berjumlah 320 orang.
“ Pengungsi berangkat dari Mimika hari selasa kemarin (26/7) dengan menggunakan pesawat Sriwijaya dan Garuda dan baru tiba di Jayapura dan jumlahnya  akan terus bertambah, sebab sebagian besar masyarakat Mimika yang mendiami distrik Kwamki Narama kampung Jile Jale SP III memilih mengungsi ke Jayapura,” katanya, kamis (28/7).
Jhony menjelaskan, 570 pengungsi itu notabenenya merupakan jemaat dari 5 gereja GIDI yang ada di Distrik Kwamki Narama dan mereka mengungsi ke Jayapura dengan menggunakan biayai sendiri tanpa bantuan dari Pemerintah ataupun orang lain.  Sejauh ini belum ada campuran Pemerintah dan hingga kini pihaknya belum menerima perhatian dari Pemerintah Provinsi Papua dan Pemerintah Kabupaten Mimika serta DPRD,” jelasnya.
Untuk itulah, Jhony mengharapkan Pemerintah cepat memberi tanggapan atas pengungsi Mimika ini sekaligus menyelesaikan persoalan disana.  
Kasus Mimika sudah termasuk kasus terbesar yang terjadi di Tanah Papua. Dimana harta benda dari masyarakat dirampas paksa bahkan rumah juga dibakar, parahnya lagi  para perempuan remaja diperkosa. Ini  kejadian diluar akal yang tak pernah terjadi namun akhirnya terjadi,” harapnya.
Jhony mengungkapkan, Memang situasi disana sudah tak aman bagi warga khususnya bagii jemaat dari 5 gereja di distrik Kwamki Narama.
“ Pengungsi disini belum semuanya tiba sebab sebagian bisa mengungsi sebagian lagi tak bisa lantaran dibunuh ditengah perjalanan sebelum tiba di posko pengungsian ,” ungkapnya.
Alasan memilih Kabupaten Jayapura sebagai tempat mengungsi, Jhony membeberkan, Pihaknya menggangap Jayapura sebagai tempat yang cocok mengungsi apalagi Jayapura sentral Papua berada di Kabupaten Jayapura dengan harapan Gubernur Provinsi Papua bisa memperhatikan para pengungsi. Keinginan masyarakat agar Pemerintah memberikan bantuan bama kepada para pengungsi sebab saat sekarang itu yang dibutuhkan.
Ketersediaan makanan sekarang ini diperoleh dari swadaya masyarakat setempat yang memberikan kepada para pengungsi seperti,Singkong, Ubi, Minuman dan Makanan,” bebernya.
Jhony menyatakan, Pengungsi ini rata-rata masih ibu-Ibu dan anak-anak sementara bapak-bapak belum mengungsi dan masih berada di Distrik Kwamki Narama Kampung Jile Jale SP III. Para pengungsi akan bertahan di Jayapura sampai Pemerintah memberikan perhatian. Tak mungkin kami kembali kesana sebab rumah-rumah ludes dibakar bahkan harta benda diambil dan dirampas,” katanya.
Untuk kejadian perang di Distrik Kwamki Narama, Jhony menjelaskan, Kejadiannya dimulai hari Minggu kemarin dan berlanjut hingga sekarang,” jelasnya.
Sementara itu, Koordinator Jemaat GIDI di Kwamki Narama, Sudiman Lambe mengharapkan Pemerintah melihat para pengungsi jemaat GIDI di Distrik Kwamki Narama yang saat ini ditampung disalah satu gereja di distrik Kwamki Narama di Kampung Jile Jale SP III,” tandasnya. (Jems)

Dibaca 501 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.

INDEX