Dorinus: Tak Ada Penyandraan Wartawan di Mamberamo Raya | Pasific Pos.com

| 23 May, 2019 |

Dorinus: Tak Ada Penyandraan Wartawan di Mamberamo Raya

Beri rating artikel ini
(0 voting)

Bupati Mamberamo Raya terpilih, Dorinus Dasinapa

 

"Dorinus Dasinapa  Ajak Kandidat Lain Terima Hasil PSU Dengan Legowo"

Jayapura,- Pasca pleno KPUD Kabupaten Mamberamo Raya, pasangan kandidat Bupati dan Wakil Bupati Mamberamo Raya terpilih, Dorinus Dasinapa – Yakobus Britai mengharapkan pemerintah melihat hasil PSU itu dengan baik, sehingga hal yang merugikan masyarakat dapat diperhatikan.

Apalagi, kata Dasinapa, sudah cukup lama, masyarakat Membramo menanti pelayanan dari seorang pemimpin baru dari ketertinggalan semua aspek, sehingga pihaknya menghimbau kandidat yang maju sebagai bupati untuk melihat hasil yang telah jelas tersebut, sebagai hasil pilihan masyarakat.
“Kita tidak pernah membuat hal yang merugikan siapapun, bahwa ini adalah suatu proses pemilihan dari masyarakat dan inilah hasil dari pemilihan tersebut di Distrik Rofaer dan Mamberamo Tengah Timur,” kata Dasinapa di kediamannya kepada wartawan, akhir pekan kemarin.
Dasinapa berharap kepada kandidat lain untuk sama-sama menerima hasil dan duduk bicara. “Jika masih kurang puas, mari terbuka dan sampaikan kepada publik,” ujarnya.
Diakui, pasca pleno KPUD Mamberamo Raya, ia langsung disambut antusias warga yang menjemput dengan perahu, bahkan warga memikulnya sambil menari dan bernyanyi mengelilingi kota.
Untuk itu, jika ada yang mengatakan pihaknya melakukan kampanye hitam, ia menyerahkan hal itu ke KPUD maupun Panwas, yang punya tanggungjawab untuk proses itu dibawa ke MK.
Hasil pleno KPUD Mamberamo Raya, ia dinyatakan meraih 1.861 suara, sehingga secara total akumulasi suara ia berhasil mengungguli incumbent sebanyak 172 suara. Pada pemungutan suara pertama, Dorinus Dasinapa – Yakobus Britai unggul 107 suara.
Untuk itu, ia mengharapkan kandidat lain untuk melihat hasil PSU tersebut. Apalagi, masyarakat sudah berulang kali memilih, tentu sudah lelah karena saat pemungutan suara pertama, masyarakat  tahu bahwa sudah selesai. Namun, ternyata keputusan MK harus ada pemilihan ulang, sehingga masyarakat merasa tidak dihargai pemerintah.
“Mereka sudah jujur, terbuka menentukan nasib mereka, tapi terkesan pemerintah masih mendukung kepentingan person terhadap system pemilihan ini, sampai masyarakat harus mengatakan apakah mereka itu warga Negara Indonesia atau bukan, sampai harus diperdayakan dengan kepentingan seseorang, ini adalah pernyataan mereka,” ungkap Dasinapa.
Dasinapa mengajak bersama-sama membangun Mamberamo Raya, bukan justru beropini yang terkesan menyinggung, tetapi lebih baik membangun, mendorong satu sama lain dan bersama-sama membangun Mamberamo Raya yang tertinggal, apalagi masyarakat membutuhkan pelayanan.
"Siapa lagi yang melayani mereka kalau bukan kita, tidak hanya pemerintah tapi semuanya harus terlibat. Jadi jangan timbulkan opini yang merugikan masyarakat, “ ucapnya.
Terkait tudingan adanya mobilisasi massa dan intimidasi dan penyanderawan wartawan, Dorinus Dasinapa kembali menegaskan  bahwa pihaknya tidak sepaham dengan hal itu, karena masyarakat tidak mengerti.
“Dikatakan intimidasi, sedangkan masyarakat di sana adalah orang Mamberamo. DPT-nya  masyarakat ada di Biri tapi orangnya ada di
kampung lain, maka saat memilih mereka harus kembali ke tempat DPT-nya. Mereka ada di pos sekretariat. Seperti di Wakeadi, mereka dari satu pos datang ke lokasi tempat mereka terdaftar sebagai pemilih untuk melakukan pemungutan suara sesuai dengan undangan yang mereka terima, nah ini yang dikatakan mobilisasi penduduk dan diintimidasi dan lainnya. Itu tidak benar,” paparnya.
Ketika disinggung soal intimidasi wartawan, Dorinus mengatakan, jika masyarakat disana hanya melarang saja, apalagi kehadiran mereka tentu dirasa asing bagi warga.
“Saat wartawan muncul di TPS, mereka tanya  ko siapa, oh saya wartawan, mana kartumu, tidak ditunjukan dan mereka tanya ko ikut siapa, setelah datang orang yang dimaksud ternyata itu salah satu timses pasangan calon, maka mereka tahan atribut wartawan.  Warga melakukan itu karena mereka sudah trauma dengan  pengalaman pemungutan suara yang lalu,” jelasnya.
Menurutnya, mereka menahan atribut wartawan itu, untuk menghindari kejadian pada PSU sebelumnya, dimana ada oknum aparat kepolisian yang diduga memihak salah satu kandidat yang melakukan intimidasi kepada warga.
“Nah pengalaman inilah yang masyarakat lihat ada muka baru mereka tanya, jadi pada intinya masyarakat trauma, dan saya katakan tidak ada intimidasi. Itu pembohongan publik,” tandasnya.
Soal penyanderaan terhadap wartawan, Dasinapa juga membantahnya bahwa berita itu tidak benar. “Orang Boudi disana terbiasa jalan dengan panah dan parang untuk berburu. Jangan katakan mereka diancam dengan panah. Jadi,  sekali lagi itu tidak benar,” pungkasnya.
Oleh karena itu,  Dasinapa mengajak kandidat lain untuk jujur dan terbuka, jika sudah kalah mari terbuka, dan legowo  jangan cari dalih untuk itu.
“Saya minta  kepada teman kandidat nomor 2 sudah berpengalaman memimpin jangan berbuat dalih dimana-mana, tetapi mari kita bersatu dan bicara bangun daerah,” pintanya.
Yang jelas, Dasinapa mengaku prinsipnya tidak dendam, tetapi pihaknya siap merangkul kandidat lain. “Saya pada prinsipnya tidak dendam, saya berprinsip saya akan rangkul semua, tidak  pernah ada kebencian kepada mereka, semua tinggal dari mereka mau legowo atau tidak,” tandasnya.
Selain itu,  Dasinapa juga menghimbau kepada masyarakat untuk bersatu membangun daerah. Apalagi, setelah pemilihan selesai, maka semuanya itu sudah habis.
“Mari kita bersatu untuk bangun, tidak ada yang bisa bangun kalau bukan masyarakat dan pemerintah. Saya harap masyarakat juga tidak terhasut, karena saya percaya ketika bekerja dengan hati nurani, maka semua manusia akan tersentuh dengan hati dan akan ada kedamaian pada kita semua,” ujar Dasinapa. (Yuni)

Dibaca 1407 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.